MASIHKAH KAMU INGAT JEMARIKU YANG PERNAH BERSATU DENGAN
JEMARIMU
Apa kabar cinta SMAku????
Apa kamu baik-baik saja disana? Apa kamu bahagia dengan segala pelik dan liku
kehidupan ini??? Aku yang tiba-tiba saja teringat kamu dan juga kenangan itu.
Bolehkah aku hanya sekedar menulis setiap indahnya kenangan dan pahitnya segala
peristiwa yang terjadi antara kau dan aku? Bolehkah aku menggambarkan bagaimana
romansa kita dahulu. Ah rasanya terlalu lebay jika harus diungkapkan. Namun,
sekeras apapun tanyaku, aku takkan pernah menemukan jawaban itu terlebih darimu,
cinta semasa SMAku.
Saat ini entah apa yang
sedang kau lakukan? Dimana? Dan dengan siapa? Aku tak tahu soal itu. Sejak aku
memutuskan hal itu, hingga kini aku tak tahu lagi bagaimana dengan segalanya
tentangmu. Apakah kamu masih saja terlihat lugu seperti dulu? Apakah kamu masih
dengan dirimu yang senantiasa menundukkan kepala ketika kamu berada di
sekeliling orang? Dan apakah kamu masih suka malu-malu atas segudang bakat yang
ada padamu? Apakah kamu masih dengan senyum paling kece itu? Masihkah kamu
menjadi idola para perempuan di sekitarmu?? Aku tak tahu, karena semenjak itu
dunia berubah antara kamu dan aku. Sekarang kita terpisah jarak dan waktu.
Aku masih teramat ingat,
ketika pulpen menjadi awal alas an kedekatan kita. Sesederhana itu perasaan ini
mengalir begitu saja, menembus sekat-sekat jantungku. Mengkoyak hati dan
pikiranku. Pada akhirnya menggoyahkan kerasnya perasaanmu. Dan demi Tuhan,
waktu kala itu mempersatukanmu denganku dalam ikatan yang terhitung amat singkat
dan cepat. Tapi ketahuilah, bahkan sampai saat ini sorot mata sipitmu masih
jelas dan melekat diingatan otakku. Tiada senyum terindah yang kece badai yang
dapat menggantikan senyummu itu.
Masihkah kamu ingat
bahwasana telapak kita pernah bersatu? Jemariku dan jemarimu menyatu diantara
sekat-sekatnya. Seolah engkau mengajariku percaya akan kekuatan cinta kita.
Tatapan mata sayumu melambai-lambai disetiap memori otakku. Terus
berputar-putar setiap harinya. Tepukan tangan dipundakmu, dipojok kelas itu
masih membekas rapi dipunggungku. Menguatkanku hingga saat ini. Dan senyummu
lagi-lagi menjadi alas an aku untuk selalu mengingat sosokmu.
Duhai lelaki bermata sipit
dengan senyum kece badai, apakah suaramu juga masih semerdu dahulu? Hingga kau
getarkan setiap labirin di hatiku. Menembus hingga cabang-cabang pembuluh darah
di sekujur tubuh mungilku. Kamu mungkin bukan sosok yang bisa berada
disampingku hingga detik ini. Tapi kamu cukup fenomenal di hatiku, dan bahkan
sosokmu masih spesial di suatu sudut terpencl di hatiku. Lantunan suara merdumu
masih terekam jelas dalam pita hatiku, selalu. Setiap kata dan syair lagu yang
kau tujukan untukku akan selalu kusimpan diantara memori aku dan kamu. Bahkan
ingatan tentangmu akan pembelaan akan diriku di hadapan sosok lain itu masih
dan sangat jelas tertancap di hatiku. Walaupun kala itu kamu yang terlalu lelah
mempertahankaku, namun setidaknya kamu memberikan pelajaran abadi untukku akan
makna cinta.
Dear cinta SMAku, tadi
sore aku baru saja menemukan akun jejaring sosialmu. Dan aku lihat sepertinya
kamu telah banyak berubah. Apakah semua itu karenaku dulu? Apakah semua itu
karena pengalamanmu bersamaku kala SMA itu? Tapi sepertinya kamu bahagia
disana, aku tahu itu karena aku bisa melihat dari foto yang terpampang di
sosmed itu. Kamu dan dia. Ya, semoga kalian berbahagia. Seperti apapun keadanmu
denganku saat ini, ketahuilah bahwa aku takpernah melupakanmu. Dan aku cukup
tahu bahwa mata sipit itu baik-baik saja masih dengan senyum kece badainya.
Semoga kamu masih mengingat tentang jemarimu dan jemariku yang pernah bersatu. Tentang
bekas tepukan tanganmu di pundakku. Dan segala hal yang telah terukir kala itu.
Aku masih menyimpannya rapat dalam memori dan sekat hatiku. Baik-baik di sana
Cinta SMAku. /eFel/