everything

Like this Blog yaa...!!!

My Great Web page

Kamis, 01 Agustus 2013

KKJP



Kapan Kamu Jawab Pertanyaanku?

Setiap kisah pasti ada akhir yang harus dijalani, seperti kisahku dan kamu yang tiba-tiba kandas di tengah jalan. Tanpa ada angin, tanpa ada hujan. Semua seolah terjadi begitu saja, berakhir tanpa ada sepatah kata. Terhenti tanpa ada tanda berhenti. Tertahan seolah semua tinggal angan-angan. Begitulah kisah yang pada awalnya kita rajut dengan manis. Diawali dengan pertemuan singkat penuh syarat di sebuah café itu. Café Biru yang penuh kenangan syahdu, walaupun sekarang semua terasa kelabu. Pertemuan singkat yang berlanjut dengan tatapan demi tatapan berpengharapan dan pada akhirnya bermuara pada sebuah perkenalan. Begitulah aku dan kamu bertemu kala itu.

Entah aku yang terlalu cepat menafsirkan setiap isyarat demi isyarat dengan makna-makna yang mengerucut pada sebuah ketertarikan atau memang Tuhan memberikan sinyal kecocokan. Hingga saat ini, ketika aku tak bersamamu lagi, aku pun tidak pernah bisa menjawab teka-teki penuh misteri dari sang maha tinggi. Lewat akun Facebookku yang berumur sekitar 1 tahun itulah kamu mencoba mengenaliku, menyusupi setiap jengkal gerak-gerikku di social media paling laku kala itu. Setiap satu klik “like” dari mu bisa membuatku tersenyum dan mengharu biru. Rasanya sontak membuatku girang tak kepalang ketika bermunculan komenmu di setiap status demi statusku. Kamu membuat facebookku seketika berubah menjadi warna merah jambu tanpa sedikitpun meninggalkan biru. Namun kini, semua telah berubah kembali biru dan bahkan menjadi semakin abu-abu.

Aku tak menyalahkanmu yang kala itu berani meminta nomor ponselku dari teman karibku. Tapi tidak juga aku mengiyakan rentetan keputusanmu, keputusan yang sekarang membuatku ingin pingsan. Kamu memang rupawan, dan tak dapat disangkal kamu juga dermawan. Setiap katamu begitu menawan bak sajak seniman. Mungkin deretan hal yang cukup menakjubkan yang pada masa itu tak dapat membuatku menolakmu secara blak-blakan dan justru memaksaku untuk menerimamu dalam kehidupanku dengan amat elegan.

Aku masih saja menyimpan beberapa kepingan dari kenangan yang pernah tercipta ketika kita bersama. Beberapa jepret file fotomu dan foto kita bersama. Tahukah kamu, terkadang aku masih sering membuka dan meratapinya. Itu bukti nyata aku dan kamu pernah tergaris bersama walau tidak untuk selamanya. Beberapa foto yang tercetak juga masih kusimpan dalam kamarku, walaupun foto-foto itu sengaja aku robek. Aku pikir melupakanmu adalah semudah merobek foto-fotomu. Tapi kenyataan sepertinya berkata lain, melupakanmu bahkan lebih sulit dari sekedar mengabadikan setiap momen bersamamu.

Beberapa aksesoris yang kamu pernah berikan padaku masih tertutup rapi dalam kotak kelabu itu. Sesekali aku membukanya dan kemudian aku ambil satu persatu dari mereka. Perlahan jariku menyusuri setiap detail dari benda-benda yang menyisakan bekas tanganmu. Masih terasa begitu damai seperti saat aku menggenggam jemarimu. Sesekali nafasku menghela, tak percaya bahwa semuanya sudah berlalu sejak kamu meninggalkanku. Tak jarang aku berbisik kepada Tuhan bahwa aku begitu merindukan masa itu. Masa dimana semua masih terasa manis, tak seperti sekarang yang terasa begitu miris.

Hey kamu, tidak kah kamu tahu bahwasanya aku menyukai setiap caramu memperlakukanku dulu. Seperti lelakiku yang tak pernah bosan aku rindu disetiap minggu. Kepulanganmu selalu aku nanti, kedatanganmu selalu aku tunggu, dan setiap kata-katamu menjadi penenangku. Tapi kini semua telah musnah. Kita memang tercipta diantara segala jarak yang jauh. Aku disini dan kamu disana. Aku yang sangat bahagia dan kamu yang entah merasa seperti apa. Aku yang setia dan kamu yang pada akhirnya meninggalkanku begitu saja.

Aku tak tahu bagaimana sekarang kamu dan kehidupanmu. Bahagiakah kamu disana? Masihkah kamu sempat merinduku seperti dahulu yang sering kamu tuturkan padaku? Kira-kira siapakah wanita yang telah menggantikanku? Otakku sering melontarkan berbagai pertanyaan yang menggelikan itu, lucu namun juga pilu. Ingatkah kamu di bulan Februari terakhir kamu meneleponku dari kota perantauanmu? Kala malam aku yang tiba-tiba terjaga dari tidurku. Kamu membangunkanku dengan panggilan selulermu yang begitu mengagetkanku. Dan sejak saat itulah kamu mulai menghilang perlahan dari kehidupanku.

Tahukah kamu betapa merindunya diriku padamu, setiap usahaku untuk mengetahuimu sepertinya tak lagi kau hiraukan. Entah sengaja atau hanya kebetulan, namun yang aku tahu kamu tiba-tiba menghilang. Dada ini sesak atas caramu itu, terlebih lagi caramu meninggalkanku. Tidakkah ada cara yang lebih keren dari pada pergi begitu saja dari hidupku? Walaupun sangat tidak elegannya caramu, tapi kenapa sampai sekarang kamu masih selalu menempati otakku dan terus berkutat diantara jutaan neutron? Kenapa kamu masih saja singgah di hatiku yang masih begitu pilu saat mengingatmu?

Jika Tuhan memberiku satu permintaan, satu-satunya hal yang ingin aku minta adalah memintamu untuk menjawab setiap pertanyaan-pertanyaanku yang berjubel diantara tulisan ini dan yang masih mengantri dalam otak dan tersumbat jauh dilubuk hatiku. Dan sepertinya kamu memang lelaki paling misterius sebagaimana pertama aku kenal kamu, bahkan hingga terakhir kamu meninggalkanku dengan begitu misterius. Bagaimana tidak? Kamu meninggalkanku tanpa sepatah katapun. Terlebih aku yang masih sulit menghapus setiap ingatan tentangmu dan rasa di hatiku padamu hingga detik ini. Misterius bukan? Semisterius perasaan yang masih tertinggal di hatiku yang masih sulit aku hapus, bahwasanya aku masih meyakini bahwa kamu adalah cinta sejatiku. Dan dengan bodohnya aku masih menunggu walaupun aku menyadari mungkin aku sudah kehilangan kesempatan untuk memiliki cinta sejatiku.

Senin, 25 Maret 2013

BERSUA DALAM KETERPAUTAN


DEMI SEGALA KETERPAUTAN ANTARA AKU DAN KAMU

Jarak memang terkadang membawa penderitaan tersendiri untukku dan mungkin untukmu. Namun bukan karena definisi jarak itu yang membuat penderitaan, melainkan cara jarak yang membuat dua raga kita terpaut ratusan kilometer satu sama lain. Dan bukanlah waktu maupun masa lalu yang membuatku terpisah darimu. Memang sungguh kejam dirasa, sungguh sesak kudera. Tapi sungguh inilah yang jarak ajarkan kepadaku untuk terus menunggu. Dan mungkin hingga nanti aku tak mampu. Hingga mungkin aku berpaling darimu.

Lewat telepon selulerlah rasaku dan rasamu bertemu dan dapat menjadi satu. Walau takjarang berujung pilu, karena kata yang mungkin membuatku sendu. Kita saling mengikat disela waktu dan diantara jarak yang terbentang diantara aku dan kamu. Kita saling bersua diantara perbedaan waktu dan perbedaan pulau. Namun bukankah kita masih di bawah langit yang sama? Kita masih di bawah kolong langit ciptaan Tuhan bukan? Dan walaupun kenyataan aku dan kamu berbeda Tuhan. 

Kala itu aku masih teringat sendu suara ibumu. Di rumah luas nan sepi di tengah hujan yang mengguyur kota kala itu. Suara rendahnya khas seorang ibu melantun disela-sela telinga kecilku. Masih tak mengerti dengan keadaan kala itu. Yang terlintas diotakku hanyalah aku yang mungkin terlalu jauh masuk dan merusak hidupmu, dan apalah itu segala tentangmu. 

Apakah aku salah yang mencintaimu kala itu?? Apakah waktu yang tidak tepat membuat kita bertemu?? Lalu apa mungkin kita menyalahkan SMA sebagai biang keladi aku dan kamu bertemu?? Dan apakah kamu harus menyalahkan dirimu sendiri yang mencintaiku? Dan apakah salah kita saling mencintai di tengah perbedaan?? Lantas, apakah kita akan menyalahkan Tuhanmu dan Tuhanku yang menakdirkan kita bertemu dalam rasa ini?? Itulah sederet pertanyaan yang muncul kala itu. Kala ibumu harus memutuskan rajutan tali kasih kita yang baru saja kita rasakan ini. Sungguh tidak adil bagiku, dan mungkin bagimu. Dengan berbagai alasan dari orang yang paling berharga di hidupmu, hingga aku tak mampu berkelit sedikitpun bahkan menolak hal yang tidak pernah aku inginkan terjadi.

Air mata menjadi temanku beberapa hari setelah itu. Kita masih dalam satu lingkungan, menuntut ilmu bersama. Dan itu berat bagiku. Rasanya aku tidak tahan ketika terlintas sosokmu dihadapanku, aku ingin menyapa dan bahkan ingin kuraih lengan panjangmu itu. Namun yang membuatku miris adalah ketika aku melihatmu namun bahkan sedikitpun kamu tak menganggapku ada.

Entah Tuhan punya takdir seperti apa yang tak pernah aku dan kamu ketahui. Dalam suatu pertemuan dan persetujuan aku dan kamu kembali mengikatkan hati satu sama lain dalam jalinan cinta terlarang. Cinta tanpa sepengetahuan orang tuamu. Cinta dibalik kebohongan aku dan semua orang yang menyayangimu. Mungkinkah aku wanita terbodoh atau bahkan dianggap lebih dari itu. Cukuplah Tuhan yang tahu dan mengerti jalan pikiran sekaligus maunya hatiku. Hariku boleh pahit kali ini, tapi setidaknya masih manis ketika sesekali kamu berada sampingku.

…***…


Segala hal tak berjalan semudah apa yang aku bayangkan. Hingga hal terberat itu menantiku di penghujung masa SMAku. Menyambut aku dan kamu dalam selimut awan kelabu. Begitu pilu aku di dera hal itu. Berita itu bagaikan petir di hari yang terik. Menyambarku dalam tiap huruf yang keluar dari mulut kecilmu. Kamu harus meninggalkan kota ini, mengikuti kedua orang terkasih dalam hidupmu. Dan tidak tanggung-tanggung pulau nan jauh di seberang menjadi tujuanmu dan orang tuamu itu. 
Hatiku lumpuh tak terkira. Aku belum bisa. Dan tidak akan pernah siap menerima ini. Mungkinkah kita bisa terpisah se jauh jarak pulauku dan pulaumu nanti?? Mungkinkah kita bisa terpaut perbedaan waktu? Dan bahkan kitapun belum cukup siap untuk membuka jalinan kisah terlarang ini. Karena selama ini hanya pada Tuhanmu dan Tuhanku lah kita membuka setiap bait cerita cinta kita. Aku yang selalu memanjatkan doa disetiap tahajudku dan kamu yang selalu merapal namaku dalam setiap doamu. Aku mungkin akan benar-benar kehilangan sadarku. Dan apa jadinya jika ditambah menghilangnya kamu dari hidupku secepat itu. 

Tapi begitulah kenyataan, saat sulit itu harus aku lalui dengan atau tanpamu. Satu hal yang aku pastikan, kamu akan tetap di hatiku. Dan pastikanlah hanya aku yang mendiami hatimu itu. Kita, seperti yang banyak orang katakan. Backstreet. Dan yang membuatnya semakin istimewa kita benar-benar sungguh berbeda keyakinan. Jika aku terlalu dalam memikirkan, aku bisa terjebak dalam sesak yang berkepanjangan. Sekarang aku cukup percaya padamu dan kepada takdir yang akan digariskan Tuhan untukku dan kamu.

…***…

Awalnya, jarak yang jauh tak begitu terasa. Bukankah kita dulu juga sudah tidak saling sering bertemu walau dalam payung sekolah yang sama. Tapi, aku menyadari kita sekarang terpisah oleh laut dan gugusannya. Sehari dua hari, mungkin hal yang tak terasa. Tapi bagaimana kalau satu bulan dan beberapa bulan bahkan tahun yang kita tak mungkin tahu berapa lama. Doaku selalu, semoga Tuhan menguatkanku yang selalu menunggumu. Dan semoga restu segera kita dapatkan dari ayah dan Ibumu seiring berjalannya waktu.

Dan kini aku yang merasa kesepian tanpa hadirmu. Bahkan bayangmu kian menjauh dari angan masa depanku. Kamu terlalu sibuk dengan segala urusanmu di pulau seberang itu. Kamu terlalu asyik dengan teman-teman barumu. Dan kamu yang kurasa kini kurang mempedulikan aku yang setia menunggumu. Aku yang selalu berharap bisa ikut merasakan setiap kebahagian yang tercipta saat kamu diantara teman-temanmu. Aku yang selalu berharap dapat merasakan senyum bahkan tawa indah yang tercipta diantara kamu dan mereka. Sungguh, disini aku yang terlalu menggilaimu hingga aku tidak bisa membuat tawaku tanpamu. Namun, nyatanya kamu disana tidak pernah menyelami perasaanku sejauh itu, sejauh jarak pulauku dan pulaumu. 

Dan ketahuilah, rasa cemburu ini mulai menyeruak ke pekermukaan hatiku ketika aku mengetahui ada wanita lain yang menemani setiap harimu. Menjadi wanita yang mendapatkan sentuhan perhatianmu secara langsung. Merasakan setiap waktumu, setiap kesempatan kamu dan dia. Menjadi wanita yang posisinya benar-benar aku idamkan. Ketahuilah aku juga wanita seperti pada umumnya. Kau pikir aku wonder women yang mencintaimu dengan hati bajaku? Aku cemburu atas perlakuanmu terhadap wanita itu. Siapa wanita yang rela, jika tahu lelakinya pulang pergi menuntut ilmu bersama perempuan lain?? Wanita mana yang tidak cemburu jika lelakinya terlalu intim bercengkerama dengan wanita lain? Dan setiap aku berusaha megutarakan rasaku, hanya rentetan kata-katamu yang menyangkal. Hanya argument-argumenmu yang mengelak atas semua itu.

Aku tahu, mungkin kamu tidak akan sepicik itu. Ketahulah bhwasana setiap wanita menyelami rasa lebih dalam dari pria. Setiap wanita pasti ingin melindungi prianya semata demi kecintaan dan komitmen yang susah payah ia bangun dan pertahankan. Dan setiap wanita mmiliki kepekaan yang tidak bisa diukur dengan beragai rumus eksakta. Aku hanya ingin melindungimu dari badai yang dibawanya. Aku tahu, pria memiliki sisi lemah lembutnya terhadap wanita, tapi aku harap itu hanya kamu tujukan untukku. Aku hanya ingin menyelamatkan apa yang sudah kita perjuangan dalam setiap kesakitan kita selama ini. Entah kenapa sekarang kamu berbeda? Teramat sulit aku memegang kendaliku. Mungkin dia telah mampu merasuki setiap sel-sel otakmu dan menyuntikkanmu dengan dopamine. Membuatmu addict terhadapnya. Tapi ketahuilah, aku selalu berdoa kepada Tuhanku semoga ia tidak sampai merajaimu. Otakmu boleh dikemudikan olehnya, tapi jaminlah hatimu kau berikan untukku. 

Diantara perbedaan jarak antara pulauku dan pulaumu. Diantara waktu yang terpaut antara kita. Dan diantara satu hal membuat perbedaan mendasar antara aku dan kamu. Ketahuilah aku sudah terlalu sakit atas penghirauanmu. Dan ketahuilah aku yang selama ini mempertahankanmu dengan segala daya dan upayaku berharap kamu menyelami dalamnya perasaanku. Demi setiap keterpautan waktu yang kita nikmati dan perbedaan jarak yang menjadi sekat pembatas setiap tidur dan tarjaganya kita. Demi jalinan kita yang tidak pernah ada yang tahu. Demi Tuhanmu dan Tuhanku dalam batas keyakinan kita yang berbeda dan demi penyesalan yang mungkin bisa membayangimu. Pulanglah untuk menjemputku, sebelum Tuhan menjemputku. /eFeL/“BOTS”

Rabu, 20 Maret 2013

APA KABAR CINTA SMAKU???


MASIHKAH KAMU INGAT JEMARIKU YANG PERNAH BERSATU DENGAN JEMARIMU

Apa kabar cinta SMAku???? Apa kamu baik-baik saja disana? Apa kamu bahagia dengan segala pelik dan liku kehidupan ini??? Aku yang tiba-tiba saja teringat kamu dan juga kenangan itu. Bolehkah aku hanya sekedar menulis setiap indahnya kenangan dan pahitnya segala peristiwa yang terjadi antara kau dan aku? Bolehkah aku menggambarkan bagaimana romansa kita dahulu. Ah rasanya terlalu lebay jika harus diungkapkan. Namun, sekeras apapun tanyaku, aku takkan pernah menemukan jawaban itu terlebih darimu, cinta semasa SMAku.

Saat ini entah apa yang sedang kau lakukan? Dimana? Dan dengan siapa? Aku tak tahu soal itu. Sejak aku memutuskan hal itu, hingga kini aku tak tahu lagi bagaimana dengan segalanya tentangmu. Apakah kamu masih saja terlihat lugu seperti dulu? Apakah kamu masih dengan dirimu yang senantiasa menundukkan kepala ketika kamu berada di sekeliling orang? Dan apakah kamu masih suka malu-malu atas segudang bakat yang ada padamu? Apakah kamu masih dengan senyum paling kece itu? Masihkah kamu menjadi idola para perempuan di sekitarmu?? Aku tak tahu, karena semenjak itu dunia berubah antara kamu dan aku. Sekarang kita terpisah jarak dan waktu.

Aku masih teramat ingat, ketika pulpen menjadi awal alas an kedekatan kita. Sesederhana itu perasaan ini mengalir begitu saja, menembus sekat-sekat jantungku. Mengkoyak hati dan pikiranku. Pada akhirnya menggoyahkan kerasnya perasaanmu. Dan demi Tuhan, waktu kala itu mempersatukanmu denganku dalam ikatan yang terhitung amat singkat dan cepat. Tapi ketahuilah, bahkan sampai saat ini sorot mata sipitmu masih jelas dan melekat diingatan otakku. Tiada senyum terindah yang kece badai yang dapat menggantikan senyummu itu.

Masihkah kamu ingat bahwasana telapak kita pernah bersatu? Jemariku dan jemarimu menyatu diantara sekat-sekatnya. Seolah engkau mengajariku percaya akan kekuatan cinta kita. Tatapan mata sayumu melambai-lambai disetiap memori otakku. Terus berputar-putar setiap harinya. Tepukan tangan dipundakmu, dipojok kelas itu masih membekas rapi dipunggungku. Menguatkanku hingga saat ini. Dan senyummu lagi-lagi menjadi alas an aku untuk selalu mengingat sosokmu.

Duhai lelaki bermata sipit dengan senyum kece badai, apakah suaramu juga masih semerdu dahulu? Hingga kau getarkan setiap labirin di hatiku. Menembus hingga cabang-cabang pembuluh darah di sekujur tubuh mungilku. Kamu mungkin bukan sosok yang bisa berada disampingku hingga detik ini. Tapi kamu cukup fenomenal di hatiku, dan bahkan sosokmu masih spesial di suatu sudut terpencl di hatiku. Lantunan suara merdumu masih terekam jelas dalam pita hatiku, selalu. Setiap kata dan syair lagu yang kau tujukan untukku akan selalu kusimpan diantara memori aku dan kamu. Bahkan ingatan tentangmu akan pembelaan akan diriku di hadapan sosok lain itu masih dan sangat jelas tertancap di hatiku. Walaupun kala itu kamu yang terlalu lelah mempertahankaku, namun setidaknya kamu memberikan pelajaran abadi untukku akan makna cinta.

Dear cinta SMAku, tadi sore aku baru saja menemukan akun jejaring sosialmu. Dan aku lihat sepertinya kamu telah banyak berubah. Apakah semua itu karenaku dulu? Apakah semua itu karena pengalamanmu bersamaku kala SMA itu? Tapi sepertinya kamu bahagia disana, aku tahu itu karena aku bisa melihat dari foto yang terpampang di sosmed itu. Kamu dan dia. Ya, semoga kalian berbahagia. Seperti apapun keadanmu denganku saat ini, ketahuilah bahwa aku takpernah melupakanmu. Dan aku cukup tahu bahwa mata sipit itu baik-baik saja masih dengan senyum kece badainya. Semoga kamu masih mengingat tentang jemarimu dan jemariku yang pernah bersatu. Tentang bekas tepukan tanganmu di pundakku. Dan segala hal yang telah terukir kala itu. Aku masih menyimpannya rapat dalam memori dan sekat hatiku. Baik-baik di sana Cinta SMAku. /eFel/