Kapan Kamu
Jawab Pertanyaanku?
Setiap kisah
pasti ada akhir yang harus dijalani, seperti kisahku dan kamu yang tiba-tiba
kandas di tengah jalan. Tanpa ada angin, tanpa ada hujan. Semua seolah terjadi
begitu saja, berakhir tanpa ada sepatah kata. Terhenti tanpa ada tanda
berhenti. Tertahan seolah semua tinggal angan-angan. Begitulah kisah yang pada
awalnya kita rajut dengan manis. Diawali dengan pertemuan singkat penuh syarat
di sebuah café itu. Café Biru yang penuh kenangan syahdu, walaupun sekarang
semua terasa kelabu. Pertemuan singkat yang berlanjut dengan tatapan demi
tatapan berpengharapan dan pada akhirnya bermuara pada sebuah perkenalan. Begitulah
aku dan kamu bertemu kala itu.
Entah aku yang
terlalu cepat menafsirkan setiap isyarat demi isyarat dengan makna-makna yang
mengerucut pada sebuah ketertarikan atau memang Tuhan memberikan sinyal
kecocokan. Hingga saat ini, ketika aku tak bersamamu lagi, aku pun tidak pernah
bisa menjawab teka-teki penuh misteri dari sang maha tinggi. Lewat akun
Facebookku yang berumur sekitar 1 tahun itulah kamu mencoba mengenaliku,
menyusupi setiap jengkal gerak-gerikku di social media paling laku kala itu.
Setiap satu klik “like” dari mu bisa membuatku tersenyum dan mengharu biru.
Rasanya sontak membuatku girang tak kepalang ketika bermunculan komenmu di
setiap status demi statusku. Kamu membuat facebookku seketika berubah menjadi
warna merah jambu tanpa sedikitpun meninggalkan biru. Namun kini, semua telah
berubah kembali biru dan bahkan menjadi semakin abu-abu.
Aku tak
menyalahkanmu yang kala itu berani meminta nomor ponselku dari teman karibku.
Tapi tidak juga aku mengiyakan rentetan keputusanmu, keputusan yang sekarang
membuatku ingin pingsan. Kamu memang rupawan, dan tak dapat disangkal kamu juga
dermawan. Setiap katamu begitu menawan bak sajak seniman. Mungkin deretan hal
yang cukup menakjubkan yang pada masa itu tak dapat membuatku menolakmu secara
blak-blakan dan justru memaksaku untuk menerimamu dalam kehidupanku dengan amat
elegan.
Aku masih saja
menyimpan beberapa kepingan dari kenangan yang pernah tercipta ketika kita
bersama. Beberapa jepret file fotomu dan foto kita bersama. Tahukah kamu,
terkadang aku masih sering membuka dan meratapinya. Itu bukti nyata aku dan
kamu pernah tergaris bersama walau tidak untuk selamanya. Beberapa foto yang
tercetak juga masih kusimpan dalam kamarku, walaupun foto-foto itu sengaja aku
robek. Aku pikir melupakanmu adalah semudah merobek foto-fotomu. Tapi kenyataan
sepertinya berkata lain, melupakanmu bahkan lebih sulit dari sekedar
mengabadikan setiap momen bersamamu.
Beberapa
aksesoris yang kamu pernah berikan padaku masih tertutup rapi dalam kotak
kelabu itu. Sesekali aku membukanya dan kemudian aku ambil satu persatu dari
mereka. Perlahan jariku menyusuri setiap detail dari benda-benda yang
menyisakan bekas tanganmu. Masih terasa begitu damai seperti saat aku
menggenggam jemarimu. Sesekali nafasku menghela, tak percaya bahwa semuanya
sudah berlalu sejak kamu meninggalkanku. Tak jarang aku berbisik kepada Tuhan
bahwa aku begitu merindukan masa itu. Masa dimana semua masih terasa manis, tak
seperti sekarang yang terasa begitu miris.
Hey kamu, tidak
kah kamu tahu bahwasanya aku menyukai setiap caramu memperlakukanku dulu.
Seperti lelakiku yang tak pernah bosan aku rindu disetiap minggu. Kepulanganmu
selalu aku nanti, kedatanganmu selalu aku tunggu, dan setiap kata-katamu
menjadi penenangku. Tapi kini semua telah musnah. Kita memang tercipta diantara
segala jarak yang jauh. Aku disini dan kamu disana. Aku yang sangat bahagia dan
kamu yang entah merasa seperti apa. Aku yang setia dan kamu yang pada akhirnya
meninggalkanku begitu saja.
Aku tak tahu
bagaimana sekarang kamu dan kehidupanmu. Bahagiakah kamu disana? Masihkah kamu
sempat merinduku seperti dahulu yang sering kamu tuturkan padaku? Kira-kira
siapakah wanita yang telah menggantikanku? Otakku sering melontarkan berbagai
pertanyaan yang menggelikan itu, lucu namun juga pilu. Ingatkah kamu di bulan
Februari terakhir kamu meneleponku dari kota perantauanmu? Kala malam aku yang
tiba-tiba terjaga dari tidurku. Kamu membangunkanku dengan panggilan selulermu
yang begitu mengagetkanku. Dan sejak saat itulah kamu mulai menghilang perlahan
dari kehidupanku.
Tahukah kamu
betapa merindunya diriku padamu, setiap usahaku untuk mengetahuimu sepertinya
tak lagi kau hiraukan. Entah sengaja atau hanya kebetulan, namun yang aku tahu
kamu tiba-tiba menghilang. Dada ini sesak atas caramu itu, terlebih lagi caramu
meninggalkanku. Tidakkah ada cara yang lebih keren dari pada pergi begitu saja
dari hidupku? Walaupun sangat tidak elegannya caramu, tapi kenapa sampai
sekarang kamu masih selalu menempati otakku dan terus berkutat diantara jutaan
neutron? Kenapa kamu masih saja singgah di hatiku yang masih begitu pilu saat
mengingatmu?
Jika Tuhan
memberiku satu permintaan, satu-satunya hal yang ingin aku minta adalah
memintamu untuk menjawab setiap pertanyaan-pertanyaanku yang berjubel diantara
tulisan ini dan yang masih mengantri dalam otak dan tersumbat jauh dilubuk hatiku.
Dan sepertinya kamu memang lelaki paling misterius sebagaimana pertama aku
kenal kamu, bahkan hingga terakhir kamu meninggalkanku dengan begitu misterius.
Bagaimana tidak? Kamu meninggalkanku tanpa sepatah katapun. Terlebih aku yang
masih sulit menghapus setiap ingatan tentangmu dan rasa di hatiku padamu hingga
detik ini. Misterius bukan? Semisterius perasaan yang masih tertinggal
di hatiku yang masih sulit aku hapus, bahwasanya aku masih meyakini bahwa kamu
adalah cinta sejatiku. Dan dengan bodohnya aku masih menunggu walaupun aku
menyadari mungkin aku sudah kehilangan kesempatan untuk memiliki cinta
sejatiku.