everything

Like this Blog yaa...!!!

My Great Web page

Senin, 25 Maret 2013

BERSUA DALAM KETERPAUTAN


DEMI SEGALA KETERPAUTAN ANTARA AKU DAN KAMU

Jarak memang terkadang membawa penderitaan tersendiri untukku dan mungkin untukmu. Namun bukan karena definisi jarak itu yang membuat penderitaan, melainkan cara jarak yang membuat dua raga kita terpaut ratusan kilometer satu sama lain. Dan bukanlah waktu maupun masa lalu yang membuatku terpisah darimu. Memang sungguh kejam dirasa, sungguh sesak kudera. Tapi sungguh inilah yang jarak ajarkan kepadaku untuk terus menunggu. Dan mungkin hingga nanti aku tak mampu. Hingga mungkin aku berpaling darimu.

Lewat telepon selulerlah rasaku dan rasamu bertemu dan dapat menjadi satu. Walau takjarang berujung pilu, karena kata yang mungkin membuatku sendu. Kita saling mengikat disela waktu dan diantara jarak yang terbentang diantara aku dan kamu. Kita saling bersua diantara perbedaan waktu dan perbedaan pulau. Namun bukankah kita masih di bawah langit yang sama? Kita masih di bawah kolong langit ciptaan Tuhan bukan? Dan walaupun kenyataan aku dan kamu berbeda Tuhan. 

Kala itu aku masih teringat sendu suara ibumu. Di rumah luas nan sepi di tengah hujan yang mengguyur kota kala itu. Suara rendahnya khas seorang ibu melantun disela-sela telinga kecilku. Masih tak mengerti dengan keadaan kala itu. Yang terlintas diotakku hanyalah aku yang mungkin terlalu jauh masuk dan merusak hidupmu, dan apalah itu segala tentangmu. 

Apakah aku salah yang mencintaimu kala itu?? Apakah waktu yang tidak tepat membuat kita bertemu?? Lalu apa mungkin kita menyalahkan SMA sebagai biang keladi aku dan kamu bertemu?? Dan apakah kamu harus menyalahkan dirimu sendiri yang mencintaiku? Dan apakah salah kita saling mencintai di tengah perbedaan?? Lantas, apakah kita akan menyalahkan Tuhanmu dan Tuhanku yang menakdirkan kita bertemu dalam rasa ini?? Itulah sederet pertanyaan yang muncul kala itu. Kala ibumu harus memutuskan rajutan tali kasih kita yang baru saja kita rasakan ini. Sungguh tidak adil bagiku, dan mungkin bagimu. Dengan berbagai alasan dari orang yang paling berharga di hidupmu, hingga aku tak mampu berkelit sedikitpun bahkan menolak hal yang tidak pernah aku inginkan terjadi.

Air mata menjadi temanku beberapa hari setelah itu. Kita masih dalam satu lingkungan, menuntut ilmu bersama. Dan itu berat bagiku. Rasanya aku tidak tahan ketika terlintas sosokmu dihadapanku, aku ingin menyapa dan bahkan ingin kuraih lengan panjangmu itu. Namun yang membuatku miris adalah ketika aku melihatmu namun bahkan sedikitpun kamu tak menganggapku ada.

Entah Tuhan punya takdir seperti apa yang tak pernah aku dan kamu ketahui. Dalam suatu pertemuan dan persetujuan aku dan kamu kembali mengikatkan hati satu sama lain dalam jalinan cinta terlarang. Cinta tanpa sepengetahuan orang tuamu. Cinta dibalik kebohongan aku dan semua orang yang menyayangimu. Mungkinkah aku wanita terbodoh atau bahkan dianggap lebih dari itu. Cukuplah Tuhan yang tahu dan mengerti jalan pikiran sekaligus maunya hatiku. Hariku boleh pahit kali ini, tapi setidaknya masih manis ketika sesekali kamu berada sampingku.

…***…


Segala hal tak berjalan semudah apa yang aku bayangkan. Hingga hal terberat itu menantiku di penghujung masa SMAku. Menyambut aku dan kamu dalam selimut awan kelabu. Begitu pilu aku di dera hal itu. Berita itu bagaikan petir di hari yang terik. Menyambarku dalam tiap huruf yang keluar dari mulut kecilmu. Kamu harus meninggalkan kota ini, mengikuti kedua orang terkasih dalam hidupmu. Dan tidak tanggung-tanggung pulau nan jauh di seberang menjadi tujuanmu dan orang tuamu itu. 
Hatiku lumpuh tak terkira. Aku belum bisa. Dan tidak akan pernah siap menerima ini. Mungkinkah kita bisa terpisah se jauh jarak pulauku dan pulaumu nanti?? Mungkinkah kita bisa terpaut perbedaan waktu? Dan bahkan kitapun belum cukup siap untuk membuka jalinan kisah terlarang ini. Karena selama ini hanya pada Tuhanmu dan Tuhanku lah kita membuka setiap bait cerita cinta kita. Aku yang selalu memanjatkan doa disetiap tahajudku dan kamu yang selalu merapal namaku dalam setiap doamu. Aku mungkin akan benar-benar kehilangan sadarku. Dan apa jadinya jika ditambah menghilangnya kamu dari hidupku secepat itu. 

Tapi begitulah kenyataan, saat sulit itu harus aku lalui dengan atau tanpamu. Satu hal yang aku pastikan, kamu akan tetap di hatiku. Dan pastikanlah hanya aku yang mendiami hatimu itu. Kita, seperti yang banyak orang katakan. Backstreet. Dan yang membuatnya semakin istimewa kita benar-benar sungguh berbeda keyakinan. Jika aku terlalu dalam memikirkan, aku bisa terjebak dalam sesak yang berkepanjangan. Sekarang aku cukup percaya padamu dan kepada takdir yang akan digariskan Tuhan untukku dan kamu.

…***…

Awalnya, jarak yang jauh tak begitu terasa. Bukankah kita dulu juga sudah tidak saling sering bertemu walau dalam payung sekolah yang sama. Tapi, aku menyadari kita sekarang terpisah oleh laut dan gugusannya. Sehari dua hari, mungkin hal yang tak terasa. Tapi bagaimana kalau satu bulan dan beberapa bulan bahkan tahun yang kita tak mungkin tahu berapa lama. Doaku selalu, semoga Tuhan menguatkanku yang selalu menunggumu. Dan semoga restu segera kita dapatkan dari ayah dan Ibumu seiring berjalannya waktu.

Dan kini aku yang merasa kesepian tanpa hadirmu. Bahkan bayangmu kian menjauh dari angan masa depanku. Kamu terlalu sibuk dengan segala urusanmu di pulau seberang itu. Kamu terlalu asyik dengan teman-teman barumu. Dan kamu yang kurasa kini kurang mempedulikan aku yang setia menunggumu. Aku yang selalu berharap bisa ikut merasakan setiap kebahagian yang tercipta saat kamu diantara teman-temanmu. Aku yang selalu berharap dapat merasakan senyum bahkan tawa indah yang tercipta diantara kamu dan mereka. Sungguh, disini aku yang terlalu menggilaimu hingga aku tidak bisa membuat tawaku tanpamu. Namun, nyatanya kamu disana tidak pernah menyelami perasaanku sejauh itu, sejauh jarak pulauku dan pulaumu. 

Dan ketahuilah, rasa cemburu ini mulai menyeruak ke pekermukaan hatiku ketika aku mengetahui ada wanita lain yang menemani setiap harimu. Menjadi wanita yang mendapatkan sentuhan perhatianmu secara langsung. Merasakan setiap waktumu, setiap kesempatan kamu dan dia. Menjadi wanita yang posisinya benar-benar aku idamkan. Ketahuilah aku juga wanita seperti pada umumnya. Kau pikir aku wonder women yang mencintaimu dengan hati bajaku? Aku cemburu atas perlakuanmu terhadap wanita itu. Siapa wanita yang rela, jika tahu lelakinya pulang pergi menuntut ilmu bersama perempuan lain?? Wanita mana yang tidak cemburu jika lelakinya terlalu intim bercengkerama dengan wanita lain? Dan setiap aku berusaha megutarakan rasaku, hanya rentetan kata-katamu yang menyangkal. Hanya argument-argumenmu yang mengelak atas semua itu.

Aku tahu, mungkin kamu tidak akan sepicik itu. Ketahulah bhwasana setiap wanita menyelami rasa lebih dalam dari pria. Setiap wanita pasti ingin melindungi prianya semata demi kecintaan dan komitmen yang susah payah ia bangun dan pertahankan. Dan setiap wanita mmiliki kepekaan yang tidak bisa diukur dengan beragai rumus eksakta. Aku hanya ingin melindungimu dari badai yang dibawanya. Aku tahu, pria memiliki sisi lemah lembutnya terhadap wanita, tapi aku harap itu hanya kamu tujukan untukku. Aku hanya ingin menyelamatkan apa yang sudah kita perjuangan dalam setiap kesakitan kita selama ini. Entah kenapa sekarang kamu berbeda? Teramat sulit aku memegang kendaliku. Mungkin dia telah mampu merasuki setiap sel-sel otakmu dan menyuntikkanmu dengan dopamine. Membuatmu addict terhadapnya. Tapi ketahuilah, aku selalu berdoa kepada Tuhanku semoga ia tidak sampai merajaimu. Otakmu boleh dikemudikan olehnya, tapi jaminlah hatimu kau berikan untukku. 

Diantara perbedaan jarak antara pulauku dan pulaumu. Diantara waktu yang terpaut antara kita. Dan diantara satu hal membuat perbedaan mendasar antara aku dan kamu. Ketahuilah aku sudah terlalu sakit atas penghirauanmu. Dan ketahuilah aku yang selama ini mempertahankanmu dengan segala daya dan upayaku berharap kamu menyelami dalamnya perasaanku. Demi setiap keterpautan waktu yang kita nikmati dan perbedaan jarak yang menjadi sekat pembatas setiap tidur dan tarjaganya kita. Demi jalinan kita yang tidak pernah ada yang tahu. Demi Tuhanmu dan Tuhanku dalam batas keyakinan kita yang berbeda dan demi penyesalan yang mungkin bisa membayangimu. Pulanglah untuk menjemputku, sebelum Tuhan menjemputku. /eFeL/“BOTS”

Rabu, 20 Maret 2013

APA KABAR CINTA SMAKU???


MASIHKAH KAMU INGAT JEMARIKU YANG PERNAH BERSATU DENGAN JEMARIMU

Apa kabar cinta SMAku???? Apa kamu baik-baik saja disana? Apa kamu bahagia dengan segala pelik dan liku kehidupan ini??? Aku yang tiba-tiba saja teringat kamu dan juga kenangan itu. Bolehkah aku hanya sekedar menulis setiap indahnya kenangan dan pahitnya segala peristiwa yang terjadi antara kau dan aku? Bolehkah aku menggambarkan bagaimana romansa kita dahulu. Ah rasanya terlalu lebay jika harus diungkapkan. Namun, sekeras apapun tanyaku, aku takkan pernah menemukan jawaban itu terlebih darimu, cinta semasa SMAku.

Saat ini entah apa yang sedang kau lakukan? Dimana? Dan dengan siapa? Aku tak tahu soal itu. Sejak aku memutuskan hal itu, hingga kini aku tak tahu lagi bagaimana dengan segalanya tentangmu. Apakah kamu masih saja terlihat lugu seperti dulu? Apakah kamu masih dengan dirimu yang senantiasa menundukkan kepala ketika kamu berada di sekeliling orang? Dan apakah kamu masih suka malu-malu atas segudang bakat yang ada padamu? Apakah kamu masih dengan senyum paling kece itu? Masihkah kamu menjadi idola para perempuan di sekitarmu?? Aku tak tahu, karena semenjak itu dunia berubah antara kamu dan aku. Sekarang kita terpisah jarak dan waktu.

Aku masih teramat ingat, ketika pulpen menjadi awal alas an kedekatan kita. Sesederhana itu perasaan ini mengalir begitu saja, menembus sekat-sekat jantungku. Mengkoyak hati dan pikiranku. Pada akhirnya menggoyahkan kerasnya perasaanmu. Dan demi Tuhan, waktu kala itu mempersatukanmu denganku dalam ikatan yang terhitung amat singkat dan cepat. Tapi ketahuilah, bahkan sampai saat ini sorot mata sipitmu masih jelas dan melekat diingatan otakku. Tiada senyum terindah yang kece badai yang dapat menggantikan senyummu itu.

Masihkah kamu ingat bahwasana telapak kita pernah bersatu? Jemariku dan jemarimu menyatu diantara sekat-sekatnya. Seolah engkau mengajariku percaya akan kekuatan cinta kita. Tatapan mata sayumu melambai-lambai disetiap memori otakku. Terus berputar-putar setiap harinya. Tepukan tangan dipundakmu, dipojok kelas itu masih membekas rapi dipunggungku. Menguatkanku hingga saat ini. Dan senyummu lagi-lagi menjadi alas an aku untuk selalu mengingat sosokmu.

Duhai lelaki bermata sipit dengan senyum kece badai, apakah suaramu juga masih semerdu dahulu? Hingga kau getarkan setiap labirin di hatiku. Menembus hingga cabang-cabang pembuluh darah di sekujur tubuh mungilku. Kamu mungkin bukan sosok yang bisa berada disampingku hingga detik ini. Tapi kamu cukup fenomenal di hatiku, dan bahkan sosokmu masih spesial di suatu sudut terpencl di hatiku. Lantunan suara merdumu masih terekam jelas dalam pita hatiku, selalu. Setiap kata dan syair lagu yang kau tujukan untukku akan selalu kusimpan diantara memori aku dan kamu. Bahkan ingatan tentangmu akan pembelaan akan diriku di hadapan sosok lain itu masih dan sangat jelas tertancap di hatiku. Walaupun kala itu kamu yang terlalu lelah mempertahankaku, namun setidaknya kamu memberikan pelajaran abadi untukku akan makna cinta.

Dear cinta SMAku, tadi sore aku baru saja menemukan akun jejaring sosialmu. Dan aku lihat sepertinya kamu telah banyak berubah. Apakah semua itu karenaku dulu? Apakah semua itu karena pengalamanmu bersamaku kala SMA itu? Tapi sepertinya kamu bahagia disana, aku tahu itu karena aku bisa melihat dari foto yang terpampang di sosmed itu. Kamu dan dia. Ya, semoga kalian berbahagia. Seperti apapun keadanmu denganku saat ini, ketahuilah bahwa aku takpernah melupakanmu. Dan aku cukup tahu bahwa mata sipit itu baik-baik saja masih dengan senyum kece badainya. Semoga kamu masih mengingat tentang jemarimu dan jemariku yang pernah bersatu. Tentang bekas tepukan tanganmu di pundakku. Dan segala hal yang telah terukir kala itu. Aku masih menyimpannya rapat dalam memori dan sekat hatiku. Baik-baik di sana Cinta SMAku. /eFel/

Senin, 11 Maret 2013

KAMU YANG MEMBAWAKU KELUAR DAN PERGI



Sosok yang Dikirim Tuhan Untukku yang Membutuhkanmu 


Malam ini terlalu pajang bagiku. Tidak seperti malam-malam lain yang bergulir teramat cepat mengalahkan laju cahaya, yang dengan sekejap mengubah petang menjadi terang. Malam ini masih di sudut ruang kecil. Ruang segala untukku. Tangis, tawa, gundah, gulana, riang gembira bahkan mungkin galau seperti sebutan anak-anak gaul sekarang. Kerja keras maupun bersantai. aku lalui semua disini, termasuk saat kamu merangkul kesedihanku, tangisku, dan marahku. Disini kita melakukannya. Di sudut kamar penuh nan berisi.

Malam ini seiring playlist lagu di komputer lipatku setia mengiang di telingaku, merasuk hingga otakku yang sedang penuh dengan tumpukan deadline yang menyesakkan. Hingga aku tersentak seketika seiring terdengar lagu “True Love” OST Drama Korea  lawas “All About Eve” yang sontak merujuk masuk ke dalam sekat-sekat dada ini. Seketika itu aku ingat tentang kita. Tentang kamu yang entah mengapa dikirim Tuhan untukku. Tentang kamu yang menjadi sosok yang walaupun jauh dari kata sempurna, namun kamu bagaikan iklan kopi yang dibilang “komplit” itu. Memang betul kamu komplit buat hidupku.

Ingatanku sejalan dengan rindu ini yang semakin menggebu atas jarak yang tercipta diantara kita kali ini. Ya, ini bukan jarak yang salah namun kita yang ditunggangi beberapa kepentinganlah yang menjadikan jarak ini tak sekedar berarti tapi perih dirasa namun harus tetap dimengerti. Semakin dalam seakan aku bertamasya ke dalam ingatanku dalam 2 tahun belakangan. Semakin dalam dan semakin dalam. Semakin aku ingat, semakin aku berputar-putar demi mencari jawaban atas kehadiranmu selama ini.

Kamu adalah sosok yang dikirimkan Tuhan saat hati ini terkatung-katung. Seperti buah yang sudah masak, hanya dengan sentilan bertenaga sepersekian joule saja akan jatuh ke tanah. Dan itu sudah barang pasti membuat buah yang tadinya segar menjadi sedikit bonyok dan mungkin juga pecah. Namun kamu menangkap buah itu ke tanganmu saat buah itu benar-benar terjatuh dengan kecepatan gravitasi bumi yang konstan. Hingga hampir menyentuh permukaan tanah yang keras dan tak jarang banyak bebatuan. Dengan sentuhan hati tulusmu itulah aku yang bak buah yang kau sadarkan dan kau giring di jalan yang tak jarang begitu terjal dirasa.

Setiap waktu dengan segala daya, upaya dan kesabaran yang tak hentinya kau curahkan. Entah demi apa aku juga tak tahu. Yang aku tahu aku ingat hal itu demi Tuhan yang mengirimkan kamu untukku. Kamu menggiringku dalam sadarku mengarungi jalan yang mengajariku bahwa inilah kenyataan hidup. Seaakan saat itu kamu tak hanya sekedar mengatakan namun kamu ingin menunjukkan  bahwa inilah kenyataan hidup yang sesungguhnya ketika wanita lebih suka masuk jebakan buaian kelembutan kata-kata pria.

Kamu adalah satu-satunya pria yang mampu bertahan dengan penuh kesabaranmu mendampingiku keluar dari buaian-buaian itu. Kamu adalah sosok pria yang dengan tulusmu mampu menguatkan hatiku. Dan kamu adalah sosok pria yang dengan keikhlasanmu berada disampingku memberi kekuatan melupakan masalalu yang terlalu kejam melukaiku. Terlalu berlebihan, mungkin bagi orang-orang yang melihat. Tapi demikian adanya kenyataan yang senantiasa melekat dalam hatiku. Iya, kenyataan yang tertulis diotak bisa terdelet dengan mudah tapi aku percaya yang ada di hati seseorang tak pernah salah untuk hal yang selalu tertinggal.

Kamu, sesosok pria yang selalu siap menyediakan pundakmu untukku saat tangisku. Saat aku mengingat tentangnya. Dan saat aku menangis tersedu dipundakmu dan kenyataan aku masih menggenggam fotonya dihadapanmu saat itu. Kamu memelukku dengan penuh kehangatan yang masih bisa ku rasakan hingga sekarang. Yang dengan daya magisnya mengusir segala ketidaktulusan, karena yang aku mungkin tak dapat melihat namun dapat aku rasakan adalah ketersediaanmu berada disisku. Ketersediaanmu menerima segala tentangku yang masih terlalu memujanya dengan ratapan piluku. Kelembutan hatimu yang membuatku tegar menyusuri jalan yang harus aku selesaikan. Memang harus aku selesaikan untuk mendapat apa yang disebut kebahagiaan. “Ini memang proses” kata itu yang selalu kamu lontarkan, yang memberikan suntikan semangat untuk tetap ikhlas menjalani sisa jalan yang harus aku lalui menuju kebahagiaan.

Denganmu aku lebih kuat dari apa yang aku bayangkan. Dengamu aku sedikit bisa mengerti kenyataan ini. Denganmu, denganmu, dan denganmu. Tidak hanya aku, tapi aku dan kamu mengarungi masa sulit dalam hidupku. Bersamamu yang mampu membuka celah hati yang lain. Celah yang mampu kamu terobos dengan segala ketersedianmu berada disisku. Masih sangat kuingat ketika aku putus asa, berhenti dan stag di sisa jalan yang masih harus kutempuh. Dan dengan tetap menyebut-nyebut namanya berkali-kali, kamu adalah satu-satunya sosok yang masih bersedia menampung segala keluh, jenuh, dan lelahku kala menyelesaikan permainan itu.

Saat kegagalanku, kamu adalah sosok terdepan yang dengan dayamu entah menghampiriku atau hanya sekedar menenangkan lewat panggilan selulermu itu. Semata hanya membuatku tenang, aku tahu itulah yang kamu coba lakukan saat itu. Dan aku takbisa mengelak saat itu kamu adalah satu-satunya sosok yang selalu terlintas dalam pikiran dan mungkin hatiku. Terlintas untukku selalu menujumu. Saat masa sulitku seseorang yang dengan kebesaran hati memelukku. Membisikkan kata bahwa aku harus tenang karena kamu selalu disampingku.

Dan bahkan kamu rela mendengarkan setiap ceritaku tentangnya, yang bisa saja itu adalah hal yang tak pernah kau harapkan dariku. Cerita yang begitu pilu dan menggurat dihatiku. Kamu yang aku tahu, dengan sabarnya kamu eluskan tangan hangatmu ke pundakku saat aku meneriakkan cacian, makian ataupun penyesalanku tentangnya. Menenangkanku, membuatku sekejap melupakan ironi semu yang tak aku sadari Tuhan sebenarnya berkehandak menghapusnya lewat sosokmu.

Dan bahkan saat aku memutusakan menjalani hidup bersamamu disela-sela kenanganku tentangnya. Aku mungkin tak menyadari kala itu, kamu sudah jelas pasti terluka atas semua tentangku. Atas semua ingatanku tentang laki-laki itu. Hingga aku menyadari kamu terlalu kuat untuk menyerah dengan hal yang serumit sudut pandangku tentang hal itu. Dan masih saja denga segala kebodohanku mencuri setiap tangisanku yang kau jaga ini masih demi sesosok pria itu. Menyembunyikannya disela-sela pundakmu yang takpernah kau tahu aku sering menitikkan air mataku diatasnya. Air mata yang takseharusnya aku teteskan masih demi lelaki itu dipundak kokohmu. Setiap kenangan yang mengiringi langkah aku dan kamu, kenangan itu masih saja tentang pria itu. Yang membuatku hampir gila merasakannya. Tak hanya dada yang menyesak namun otakpun serasa hilang akal.

Aku menyadari bahwasanya kamu tahu hal itu. Kamu terlalu pintar menyembunyikan perasaanmu di balik kekuatanmu yang menguatkan setiap langkahku dan kamu. Kekuatan yang setia merangkul kesedihanku, kekuatan yang selalu mendekap kegundahanku, dan kekuatan yang senantiasa menampung keegoisanku atasmu. Kekuatan itu semakin lama menjelma menjadi kesediaanmu menyambut segala kurangnya diriku atas segala. Sungguh indah bagi yang bisa merasakan tapi bagiku terlalu bodoh karena aku takseketika menyadari segala tentang hal itu.

Kamu, sosok yang selalu merangkul kemarahanku. Meredam segala bentakanku dengan diammu. Mencairkan hati yang sedang mungkar dengan sedikit candamu. Menahan segala cacianku dengan senyum, yang aku mengerti itu adalah tanda ketersedianmu menjadi sosokmu yang tanpa kusadari sangat berarti dihidupku. Siapa yang pernah bisa mengingkari garis yang telah dibuat Tuhan. Dan apakah salah kalau aku terlambat menyadarinya? Bahkan, bukan hanya sosok Tuhan saja namun sosokmu pun paham sekali akan hal itu? Karena kamu mengerti Tuhan memanggilmu untukku.

Keterlambatan bagiku bukan kesalahan. Karena bagi hidupku dan hidupmu saat ini keterlambatan adalah tanda bahwa kini aku telah sadar. Dan bahwasanya ini adalah tanda bahwa aku telah menemukan ujung jalan pilu itu. Bahwa ini tanda aku mencapai titik keberhasilan yang tidak hanya untukku, tapi untukmu dan untukku yang telah di desain Tuhan dengan cara yang begini. Sedemikianrupa rumitnya. Demikian pula di depan sana cahaya sudah siap menanti, bukan hanya menantiku tapi menanti aku dan kamu. menanti kita berdua.

Kamu, sesosok pria yang membawaku keluar dan pergi meninggalkan bayanganku tentangnya. Dengan segala kesakitan yang aku dan kamu alami berdua, aku rasa kita berhasil. Karena Tuhan memang sepertinya berkehendak begitu. Kamu menjadi sosok yang membukakan dunia baru, dunia yang aku kira dulunya terlalu sempit namun pada kenyataannya aku menyadari bahwa dunia ini terlalu luas untuk tetap meratapi hal yang tak pernah melihat bahkan menengok kita. Dunia yang terlalu indah dilewatkan sedetikpun atas segala keajaiban yang terjadi di dalamnya. Dunia yang begitu fantastis, dunia yang aku rasa sekarang aku benar-benar siap untuk aku itari bersamamu. Karena kamu adalah satu-satunya alasan yang membuatku kembali ke pelukanmu kala kemarahan menjelma menyerupai diriku. Karena hanya padamu Tuhan senantisa mengirimku kembali saat hilang arahku. Dan hanya kamu satu-satunya yang terbersit di setiap membran hatiku setiap saat dan waktu aku berusaha menjauh darimu. Kamu yang dengan lihai membuat kejutan demi kejutan dalam hidupku. kamu yang dengan ajaibnya membuatku bertahan dalam kerasnya kehidupan ini.

Kamu sosok yang tak pernah lelah mengantarku kesana kemari mencari hal yang kadang ujungnya tidak begitu jelas untukku dan untukkmu. Kamu sosok yang tidak pernah mengeluh dalam kesahku. Kamu adalah driver terhebat yang pernah membawaku kesetiap tempat yang menjadi saksi bahwa sejatinya Tuhan menciptakan aku hanya untukmu. Kamu, adalah sosok yang tak pernah kehabisan akal dan cara membuatku menjadi wanita paling beruntung di jagad raya. Dengan kesabaranmu kamu tak letihnya menghadapiku. Kekanak-anakanku yang setiap saat menyeruak tanpa permisi, makian, teriakan, dan segala kegoisan hanya dengan satu lengkungan senyummu kamu mengisyaratkan tahan akan segala hal itu. Kamu yangg sanggup meredam setiap detik kecemburuanku. Kamu sosok yang tiada henti, selalu dan selalu berusaha mengerti setiap liku sudut pandang anehku dengan segenap pengertianmu. 

Kamu…
Kamu…
Kamu…
Kamu..
Dan kamu…
Hingga malam ini aku menyadari, pada akhirnya aku terlalu sulit untuk mencoba menggambarkan segalanya tentang dirimu. Karena kamu yang aku tahu adalah sosok yang sedemikian Tuhan maksudkan untukku yang membutuhkanmu. Kamu adalah sosok yag pada akhirnya menjadi satu-satunya tempatku kembali ketika aku coba berlari melawan laju hatiku. Kamu, satu-satunya sosok yang membuatku kesulitan menggambarkanmu.eFeL