DEMI SEGALA KETERPAUTAN ANTARA AKU DAN KAMU
Jarak memang terkadang membawa
penderitaan tersendiri untukku dan mungkin untukmu. Namun bukan karena definisi
jarak itu yang membuat penderitaan, melainkan cara jarak yang membuat dua raga
kita terpaut ratusan kilometer satu sama lain. Dan bukanlah waktu maupun masa
lalu yang membuatku terpisah darimu. Memang sungguh kejam dirasa, sungguh sesak
kudera. Tapi sungguh inilah yang jarak ajarkan kepadaku untuk terus menunggu.
Dan mungkin hingga nanti aku tak mampu. Hingga mungkin aku berpaling darimu.
Lewat telepon selulerlah rasaku dan
rasamu bertemu dan dapat menjadi satu. Walau takjarang berujung pilu, karena
kata yang mungkin membuatku sendu. Kita saling mengikat disela waktu dan
diantara jarak yang terbentang diantara aku dan kamu. Kita saling bersua
diantara perbedaan waktu dan perbedaan pulau. Namun bukankah kita masih di
bawah langit yang sama? Kita masih di bawah kolong langit ciptaan Tuhan bukan?
Dan walaupun kenyataan aku dan kamu berbeda Tuhan.
Kala itu aku masih teringat sendu
suara ibumu. Di rumah luas nan sepi di tengah hujan yang mengguyur kota kala
itu. Suara rendahnya khas seorang ibu melantun disela-sela telinga kecilku.
Masih tak mengerti dengan keadaan kala itu. Yang terlintas diotakku hanyalah
aku yang mungkin terlalu jauh masuk dan merusak hidupmu, dan apalah itu segala
tentangmu.
Apakah aku salah yang mencintaimu
kala itu?? Apakah waktu yang tidak tepat membuat kita bertemu?? Lalu apa
mungkin kita menyalahkan SMA sebagai biang keladi aku dan kamu bertemu?? Dan
apakah kamu harus menyalahkan dirimu sendiri yang mencintaiku? Dan apakah salah
kita saling mencintai di tengah perbedaan?? Lantas, apakah kita akan
menyalahkan Tuhanmu dan Tuhanku yang menakdirkan kita bertemu dalam rasa ini??
Itulah sederet pertanyaan yang muncul kala itu. Kala ibumu harus memutuskan
rajutan tali kasih kita yang baru saja kita rasakan ini. Sungguh tidak adil
bagiku, dan mungkin bagimu. Dengan berbagai alasan dari orang yang paling
berharga di hidupmu, hingga aku tak mampu berkelit sedikitpun bahkan menolak
hal yang tidak pernah aku inginkan terjadi.
Air mata menjadi temanku beberapa
hari setelah itu. Kita masih dalam satu lingkungan, menuntut ilmu bersama. Dan
itu berat bagiku. Rasanya aku tidak tahan ketika terlintas sosokmu dihadapanku,
aku ingin menyapa dan bahkan ingin kuraih lengan panjangmu itu. Namun yang
membuatku miris adalah ketika aku melihatmu namun bahkan sedikitpun kamu tak
menganggapku ada.
Entah Tuhan punya takdir seperti
apa yang tak pernah aku dan kamu ketahui. Dalam suatu pertemuan dan persetujuan
aku dan kamu kembali mengikatkan hati satu sama lain dalam jalinan cinta
terlarang. Cinta tanpa sepengetahuan orang tuamu. Cinta dibalik kebohongan aku
dan semua orang yang menyayangimu. Mungkinkah aku wanita terbodoh atau bahkan
dianggap lebih dari itu. Cukuplah Tuhan yang tahu dan mengerti jalan pikiran
sekaligus maunya hatiku. Hariku boleh pahit kali ini, tapi setidaknya masih
manis ketika sesekali kamu berada sampingku.
…***…
Segala hal tak berjalan semudah apa
yang aku bayangkan. Hingga hal terberat itu menantiku di penghujung masa SMAku.
Menyambut aku dan kamu dalam selimut awan kelabu. Begitu pilu aku di dera hal
itu. Berita itu bagaikan petir di hari yang terik. Menyambarku dalam tiap huruf
yang keluar dari mulut kecilmu. Kamu harus meninggalkan kota ini, mengikuti
kedua orang terkasih dalam hidupmu. Dan tidak tanggung-tanggung pulau nan jauh
di seberang menjadi tujuanmu dan orang tuamu itu.
Hatiku lumpuh tak terkira. Aku
belum bisa. Dan tidak akan pernah siap menerima ini. Mungkinkah kita bisa
terpisah se jauh jarak pulauku dan pulaumu nanti?? Mungkinkah kita bisa terpaut
perbedaan waktu? Dan bahkan kitapun belum cukup siap untuk membuka jalinan
kisah terlarang ini. Karena selama ini hanya pada Tuhanmu dan Tuhanku lah kita
membuka setiap bait cerita cinta kita. Aku yang selalu memanjatkan doa disetiap
tahajudku dan kamu yang selalu merapal namaku dalam setiap doamu. Aku mungkin
akan benar-benar kehilangan sadarku. Dan apa jadinya jika ditambah
menghilangnya kamu dari hidupku secepat itu.
Tapi begitulah kenyataan, saat
sulit itu harus aku lalui dengan atau tanpamu. Satu hal yang aku pastikan, kamu
akan tetap di hatiku. Dan pastikanlah hanya aku yang mendiami hatimu itu. Kita,
seperti yang banyak orang katakan. Backstreet. Dan yang membuatnya semakin
istimewa kita benar-benar sungguh berbeda keyakinan. Jika aku terlalu dalam
memikirkan, aku bisa terjebak dalam sesak yang berkepanjangan. Sekarang aku
cukup percaya padamu dan kepada takdir yang akan digariskan Tuhan untukku dan
kamu.
…***…
Awalnya, jarak yang jauh tak begitu
terasa. Bukankah kita dulu juga sudah tidak saling sering bertemu walau dalam
payung sekolah yang sama. Tapi, aku menyadari kita sekarang terpisah oleh laut
dan gugusannya. Sehari dua hari, mungkin hal yang tak terasa. Tapi bagaimana
kalau satu bulan dan beberapa bulan bahkan tahun yang kita tak mungkin tahu
berapa lama. Doaku selalu, semoga Tuhan menguatkanku yang selalu menunggumu.
Dan semoga restu segera kita dapatkan dari ayah dan Ibumu seiring berjalannya
waktu.
Dan kini aku yang merasa kesepian
tanpa hadirmu. Bahkan bayangmu kian menjauh dari angan masa depanku. Kamu
terlalu sibuk dengan segala urusanmu di pulau seberang itu. Kamu terlalu asyik dengan
teman-teman barumu. Dan kamu yang kurasa kini kurang mempedulikan aku yang
setia menunggumu. Aku yang selalu berharap bisa ikut merasakan setiap
kebahagian yang tercipta saat kamu diantara teman-temanmu. Aku yang selalu
berharap dapat merasakan senyum bahkan tawa indah yang tercipta diantara kamu
dan mereka. Sungguh, disini aku yang terlalu menggilaimu hingga aku tidak bisa
membuat tawaku tanpamu. Namun, nyatanya kamu disana tidak pernah menyelami
perasaanku sejauh itu, sejauh jarak pulauku dan pulaumu.
Dan ketahuilah, rasa cemburu ini
mulai menyeruak ke pekermukaan hatiku ketika aku mengetahui ada wanita lain
yang menemani setiap harimu. Menjadi wanita yang mendapatkan sentuhan
perhatianmu secara langsung. Merasakan setiap waktumu, setiap kesempatan kamu
dan dia. Menjadi wanita yang posisinya benar-benar aku idamkan. Ketahuilah aku
juga wanita seperti pada umumnya. Kau pikir aku wonder women yang mencintaimu
dengan hati bajaku? Aku cemburu atas perlakuanmu terhadap wanita itu. Siapa
wanita yang rela, jika tahu lelakinya pulang pergi menuntut ilmu bersama
perempuan lain?? Wanita mana yang tidak cemburu jika lelakinya terlalu intim
bercengkerama dengan wanita lain? Dan setiap aku berusaha megutarakan rasaku,
hanya rentetan kata-katamu yang menyangkal. Hanya argument-argumenmu yang
mengelak atas semua itu.
Aku tahu, mungkin kamu tidak akan
sepicik itu. Ketahulah bhwasana setiap wanita menyelami rasa lebih dalam dari
pria. Setiap wanita pasti ingin melindungi prianya semata demi kecintaan dan
komitmen yang susah payah ia bangun dan pertahankan. Dan setiap wanita mmiliki
kepekaan yang tidak bisa diukur dengan beragai rumus eksakta. Aku hanya ingin
melindungimu dari badai yang dibawanya. Aku tahu, pria memiliki sisi lemah
lembutnya terhadap wanita, tapi aku harap itu hanya kamu tujukan untukku. Aku
hanya ingin menyelamatkan apa yang sudah kita perjuangan dalam setiap kesakitan
kita selama ini. Entah kenapa sekarang kamu berbeda? Teramat sulit aku memegang
kendaliku. Mungkin dia telah mampu merasuki setiap sel-sel otakmu dan
menyuntikkanmu dengan dopamine. Membuatmu addict terhadapnya. Tapi ketahuilah,
aku selalu berdoa kepada Tuhanku semoga ia tidak sampai merajaimu. Otakmu boleh
dikemudikan olehnya, tapi jaminlah hatimu kau berikan untukku.
Diantara perbedaan jarak antara
pulauku dan pulaumu. Diantara waktu yang terpaut antara kita. Dan diantara satu
hal membuat perbedaan mendasar antara aku dan kamu. Ketahuilah aku sudah
terlalu sakit atas penghirauanmu. Dan ketahuilah aku yang selama ini
mempertahankanmu dengan segala daya dan upayaku berharap kamu menyelami
dalamnya perasaanku. Demi setiap keterpautan waktu yang kita nikmati dan
perbedaan jarak yang menjadi sekat pembatas setiap tidur dan tarjaganya kita.
Demi jalinan kita yang tidak pernah ada yang tahu. Demi Tuhanmu dan Tuhanku
dalam batas keyakinan kita yang berbeda dan demi penyesalan yang mungkin bisa
membayangimu. Pulanglah untuk menjemputku, sebelum Tuhan menjemputku. /eFeL/“BOTS”