everything

Like this Blog yaa...!!!

My Great Web page

Senin, 11 Maret 2013

KAMU YANG MEMBAWAKU KELUAR DAN PERGI



Sosok yang Dikirim Tuhan Untukku yang Membutuhkanmu 


Malam ini terlalu pajang bagiku. Tidak seperti malam-malam lain yang bergulir teramat cepat mengalahkan laju cahaya, yang dengan sekejap mengubah petang menjadi terang. Malam ini masih di sudut ruang kecil. Ruang segala untukku. Tangis, tawa, gundah, gulana, riang gembira bahkan mungkin galau seperti sebutan anak-anak gaul sekarang. Kerja keras maupun bersantai. aku lalui semua disini, termasuk saat kamu merangkul kesedihanku, tangisku, dan marahku. Disini kita melakukannya. Di sudut kamar penuh nan berisi.

Malam ini seiring playlist lagu di komputer lipatku setia mengiang di telingaku, merasuk hingga otakku yang sedang penuh dengan tumpukan deadline yang menyesakkan. Hingga aku tersentak seketika seiring terdengar lagu “True Love” OST Drama Korea  lawas “All About Eve” yang sontak merujuk masuk ke dalam sekat-sekat dada ini. Seketika itu aku ingat tentang kita. Tentang kamu yang entah mengapa dikirim Tuhan untukku. Tentang kamu yang menjadi sosok yang walaupun jauh dari kata sempurna, namun kamu bagaikan iklan kopi yang dibilang “komplit” itu. Memang betul kamu komplit buat hidupku.

Ingatanku sejalan dengan rindu ini yang semakin menggebu atas jarak yang tercipta diantara kita kali ini. Ya, ini bukan jarak yang salah namun kita yang ditunggangi beberapa kepentinganlah yang menjadikan jarak ini tak sekedar berarti tapi perih dirasa namun harus tetap dimengerti. Semakin dalam seakan aku bertamasya ke dalam ingatanku dalam 2 tahun belakangan. Semakin dalam dan semakin dalam. Semakin aku ingat, semakin aku berputar-putar demi mencari jawaban atas kehadiranmu selama ini.

Kamu adalah sosok yang dikirimkan Tuhan saat hati ini terkatung-katung. Seperti buah yang sudah masak, hanya dengan sentilan bertenaga sepersekian joule saja akan jatuh ke tanah. Dan itu sudah barang pasti membuat buah yang tadinya segar menjadi sedikit bonyok dan mungkin juga pecah. Namun kamu menangkap buah itu ke tanganmu saat buah itu benar-benar terjatuh dengan kecepatan gravitasi bumi yang konstan. Hingga hampir menyentuh permukaan tanah yang keras dan tak jarang banyak bebatuan. Dengan sentuhan hati tulusmu itulah aku yang bak buah yang kau sadarkan dan kau giring di jalan yang tak jarang begitu terjal dirasa.

Setiap waktu dengan segala daya, upaya dan kesabaran yang tak hentinya kau curahkan. Entah demi apa aku juga tak tahu. Yang aku tahu aku ingat hal itu demi Tuhan yang mengirimkan kamu untukku. Kamu menggiringku dalam sadarku mengarungi jalan yang mengajariku bahwa inilah kenyataan hidup. Seaakan saat itu kamu tak hanya sekedar mengatakan namun kamu ingin menunjukkan  bahwa inilah kenyataan hidup yang sesungguhnya ketika wanita lebih suka masuk jebakan buaian kelembutan kata-kata pria.

Kamu adalah satu-satunya pria yang mampu bertahan dengan penuh kesabaranmu mendampingiku keluar dari buaian-buaian itu. Kamu adalah sosok pria yang dengan tulusmu mampu menguatkan hatiku. Dan kamu adalah sosok pria yang dengan keikhlasanmu berada disampingku memberi kekuatan melupakan masalalu yang terlalu kejam melukaiku. Terlalu berlebihan, mungkin bagi orang-orang yang melihat. Tapi demikian adanya kenyataan yang senantiasa melekat dalam hatiku. Iya, kenyataan yang tertulis diotak bisa terdelet dengan mudah tapi aku percaya yang ada di hati seseorang tak pernah salah untuk hal yang selalu tertinggal.

Kamu, sesosok pria yang selalu siap menyediakan pundakmu untukku saat tangisku. Saat aku mengingat tentangnya. Dan saat aku menangis tersedu dipundakmu dan kenyataan aku masih menggenggam fotonya dihadapanmu saat itu. Kamu memelukku dengan penuh kehangatan yang masih bisa ku rasakan hingga sekarang. Yang dengan daya magisnya mengusir segala ketidaktulusan, karena yang aku mungkin tak dapat melihat namun dapat aku rasakan adalah ketersediaanmu berada disisku. Ketersediaanmu menerima segala tentangku yang masih terlalu memujanya dengan ratapan piluku. Kelembutan hatimu yang membuatku tegar menyusuri jalan yang harus aku selesaikan. Memang harus aku selesaikan untuk mendapat apa yang disebut kebahagiaan. “Ini memang proses” kata itu yang selalu kamu lontarkan, yang memberikan suntikan semangat untuk tetap ikhlas menjalani sisa jalan yang harus aku lalui menuju kebahagiaan.

Denganmu aku lebih kuat dari apa yang aku bayangkan. Dengamu aku sedikit bisa mengerti kenyataan ini. Denganmu, denganmu, dan denganmu. Tidak hanya aku, tapi aku dan kamu mengarungi masa sulit dalam hidupku. Bersamamu yang mampu membuka celah hati yang lain. Celah yang mampu kamu terobos dengan segala ketersedianmu berada disisku. Masih sangat kuingat ketika aku putus asa, berhenti dan stag di sisa jalan yang masih harus kutempuh. Dan dengan tetap menyebut-nyebut namanya berkali-kali, kamu adalah satu-satunya sosok yang masih bersedia menampung segala keluh, jenuh, dan lelahku kala menyelesaikan permainan itu.

Saat kegagalanku, kamu adalah sosok terdepan yang dengan dayamu entah menghampiriku atau hanya sekedar menenangkan lewat panggilan selulermu itu. Semata hanya membuatku tenang, aku tahu itulah yang kamu coba lakukan saat itu. Dan aku takbisa mengelak saat itu kamu adalah satu-satunya sosok yang selalu terlintas dalam pikiran dan mungkin hatiku. Terlintas untukku selalu menujumu. Saat masa sulitku seseorang yang dengan kebesaran hati memelukku. Membisikkan kata bahwa aku harus tenang karena kamu selalu disampingku.

Dan bahkan kamu rela mendengarkan setiap ceritaku tentangnya, yang bisa saja itu adalah hal yang tak pernah kau harapkan dariku. Cerita yang begitu pilu dan menggurat dihatiku. Kamu yang aku tahu, dengan sabarnya kamu eluskan tangan hangatmu ke pundakku saat aku meneriakkan cacian, makian ataupun penyesalanku tentangnya. Menenangkanku, membuatku sekejap melupakan ironi semu yang tak aku sadari Tuhan sebenarnya berkehandak menghapusnya lewat sosokmu.

Dan bahkan saat aku memutusakan menjalani hidup bersamamu disela-sela kenanganku tentangnya. Aku mungkin tak menyadari kala itu, kamu sudah jelas pasti terluka atas semua tentangku. Atas semua ingatanku tentang laki-laki itu. Hingga aku menyadari kamu terlalu kuat untuk menyerah dengan hal yang serumit sudut pandangku tentang hal itu. Dan masih saja denga segala kebodohanku mencuri setiap tangisanku yang kau jaga ini masih demi sesosok pria itu. Menyembunyikannya disela-sela pundakmu yang takpernah kau tahu aku sering menitikkan air mataku diatasnya. Air mata yang takseharusnya aku teteskan masih demi lelaki itu dipundak kokohmu. Setiap kenangan yang mengiringi langkah aku dan kamu, kenangan itu masih saja tentang pria itu. Yang membuatku hampir gila merasakannya. Tak hanya dada yang menyesak namun otakpun serasa hilang akal.

Aku menyadari bahwasanya kamu tahu hal itu. Kamu terlalu pintar menyembunyikan perasaanmu di balik kekuatanmu yang menguatkan setiap langkahku dan kamu. Kekuatan yang setia merangkul kesedihanku, kekuatan yang selalu mendekap kegundahanku, dan kekuatan yang senantiasa menampung keegoisanku atasmu. Kekuatan itu semakin lama menjelma menjadi kesediaanmu menyambut segala kurangnya diriku atas segala. Sungguh indah bagi yang bisa merasakan tapi bagiku terlalu bodoh karena aku takseketika menyadari segala tentang hal itu.

Kamu, sosok yang selalu merangkul kemarahanku. Meredam segala bentakanku dengan diammu. Mencairkan hati yang sedang mungkar dengan sedikit candamu. Menahan segala cacianku dengan senyum, yang aku mengerti itu adalah tanda ketersedianmu menjadi sosokmu yang tanpa kusadari sangat berarti dihidupku. Siapa yang pernah bisa mengingkari garis yang telah dibuat Tuhan. Dan apakah salah kalau aku terlambat menyadarinya? Bahkan, bukan hanya sosok Tuhan saja namun sosokmu pun paham sekali akan hal itu? Karena kamu mengerti Tuhan memanggilmu untukku.

Keterlambatan bagiku bukan kesalahan. Karena bagi hidupku dan hidupmu saat ini keterlambatan adalah tanda bahwa kini aku telah sadar. Dan bahwasanya ini adalah tanda bahwa aku telah menemukan ujung jalan pilu itu. Bahwa ini tanda aku mencapai titik keberhasilan yang tidak hanya untukku, tapi untukmu dan untukku yang telah di desain Tuhan dengan cara yang begini. Sedemikianrupa rumitnya. Demikian pula di depan sana cahaya sudah siap menanti, bukan hanya menantiku tapi menanti aku dan kamu. menanti kita berdua.

Kamu, sesosok pria yang membawaku keluar dan pergi meninggalkan bayanganku tentangnya. Dengan segala kesakitan yang aku dan kamu alami berdua, aku rasa kita berhasil. Karena Tuhan memang sepertinya berkehendak begitu. Kamu menjadi sosok yang membukakan dunia baru, dunia yang aku kira dulunya terlalu sempit namun pada kenyataannya aku menyadari bahwa dunia ini terlalu luas untuk tetap meratapi hal yang tak pernah melihat bahkan menengok kita. Dunia yang terlalu indah dilewatkan sedetikpun atas segala keajaiban yang terjadi di dalamnya. Dunia yang begitu fantastis, dunia yang aku rasa sekarang aku benar-benar siap untuk aku itari bersamamu. Karena kamu adalah satu-satunya alasan yang membuatku kembali ke pelukanmu kala kemarahan menjelma menyerupai diriku. Karena hanya padamu Tuhan senantisa mengirimku kembali saat hilang arahku. Dan hanya kamu satu-satunya yang terbersit di setiap membran hatiku setiap saat dan waktu aku berusaha menjauh darimu. Kamu yang dengan lihai membuat kejutan demi kejutan dalam hidupku. kamu yang dengan ajaibnya membuatku bertahan dalam kerasnya kehidupan ini.

Kamu sosok yang tak pernah lelah mengantarku kesana kemari mencari hal yang kadang ujungnya tidak begitu jelas untukku dan untukkmu. Kamu sosok yang tidak pernah mengeluh dalam kesahku. Kamu adalah driver terhebat yang pernah membawaku kesetiap tempat yang menjadi saksi bahwa sejatinya Tuhan menciptakan aku hanya untukmu. Kamu, adalah sosok yang tak pernah kehabisan akal dan cara membuatku menjadi wanita paling beruntung di jagad raya. Dengan kesabaranmu kamu tak letihnya menghadapiku. Kekanak-anakanku yang setiap saat menyeruak tanpa permisi, makian, teriakan, dan segala kegoisan hanya dengan satu lengkungan senyummu kamu mengisyaratkan tahan akan segala hal itu. Kamu yangg sanggup meredam setiap detik kecemburuanku. Kamu sosok yang tiada henti, selalu dan selalu berusaha mengerti setiap liku sudut pandang anehku dengan segenap pengertianmu. 

Kamu…
Kamu…
Kamu…
Kamu..
Dan kamu…
Hingga malam ini aku menyadari, pada akhirnya aku terlalu sulit untuk mencoba menggambarkan segalanya tentang dirimu. Karena kamu yang aku tahu adalah sosok yang sedemikian Tuhan maksudkan untukku yang membutuhkanmu. Kamu adalah sosok yag pada akhirnya menjadi satu-satunya tempatku kembali ketika aku coba berlari melawan laju hatiku. Kamu, satu-satunya sosok yang membuatku kesulitan menggambarkanmu.eFeL

Senin, 25 Februari 2013

Lelakiku



Ketika Angan Tak Sejalan

Aku tersentak dalam langkah cekatanku ketika tiba-tiba aku mengingatmu. Wajahmu sontak membuyarkan konsentrasiku dalam seabrek kerjaan di depan meja kantorku. Suaramu seakan terngiang di lubang telingaku, kanan dan kiri semua penuh dengan suara-suaramu. Aku sadar, dalam detik ini aku mengingatmu. Dan mungkin untuk beberapa detik ke depan aku akan terus mengingatmu. Entah berapa detik yang akan aku habiskan untuk mengingatmu.
Tiada manusia satupun yang sanggup menolak apa yang telah dialaminya, begitu pula denganku. Aku tak dapat menghindar dan mengelak bahwa aku pernah bertemu dan mengenalmu. Dan mungkin sempat memilikimu. Aku pikir waktu 6 tahun itu memang bukan waktu yang singkat untuk mengenalmu. Namun rasanya kini semua sudah tiada guna. Semua kenangan telah hilang dan pergi. Bahkan kini terasa telah berganti.
Kala itu kamu datang menjadi sosok yang mencuri hatiku. Dengan segala pesonamu kau tarik diriku. Dengan segala rayuanmu kau seakan semakin membelenggu. Hingga akhirnya pertemuan singkat itu membuatku takberdaya menolakmu. Kala itu aku bak putri yang sedang dipuja, terbang ke kayangan. Menari-nari bersama bidadari yang elok nan baik hati. Bersenandung di taman surgawi.
Sekejap semua seakan musnah dan tiada berarti, ketika kekhilafan menghampiri dirimu. Dan kemudian  hingga satu per satu siluet masalalumu mulai terbuka. Dan aku benci. Aku muak untuk mengetahuinya. Tahu kah kamu aku benci masa itu. Masa dimana suaraku tercekat, dan hanya hati yang bisa berteriak disela airmata. Dan tahukah kamu semua itulah yang menjadikan awal keberingasanku padamu. Terdengar sedikit kasar, namun inilah kenyataannya yang terjadi padaku.
Kamu adalah satu-satunya adam yang bisa membuatku menyerahkan hatiku sepenuhnya untukmu. Namun sedemikian kamu yang aku tuntut menyerahkan segala daya dan upayamu. Dan siapa lagi lelaki yang rela menuruti setip kata yang keluar dari bibir ini? Kamu orangnya. Dan siapa yang rela menjadi tempat pelampiasan atas segala keluh, kesah, dan bahkan kemarahanku yang tanpa sebab? Kamu. Dan siapa lelaki yang mau memberiku apa yang aku inginkan? Kamu. Dan laki-laki yang rela tidak melawan saat aku memukulinya? Kamu. Dan siapa juga lelaki yang mau mengantarkanku dalam setiap moment berhargaku, dan walaupun pada akhirnya kamu menjadi laki-laki yang rela aku abaikan di acaraku? Kamu. Dan bahwasanya laki-laki yang mau pulang dari perantauan hanya karena aku ingin bertemu sekejap? Dan lelaki yang memilih menelantarkan studynya demi aku yang seperti ini? Tidak lain tidak bukan, hanya KAMU.
Aku semakin menjadi. Aku semakin terbelenggu dengan aku yang seperti itu. Egois, pemarah, dan pengatur. Bahkan aku menjadi sosok yang terlalu cemburu hingga melarangmu berdekatan dengan wanita lain. Semata karena aku takut dan tidak ingin kehilangan secuilpun dari kamu. bahkan kehilangan pandanganmu sedetikpun.
Waktu semakin berlalu dengan pasti. Hingga suatu titik aku merasa jenuh dengan semuanya. Denganmu takkunjung kutemukan secercah cahaya yang menjanjikan kebahagiaan. Denganmu hanya ada cara yang “lempeng-lempeng” aja. Denganmu yang hanya mengikutiku. Aku ingin lebih dari sekedar ini, karena semakin aku rasa semakin pudar saja. Dirimu yang tak lagi aku inginkan. Ya, aku tiba-tiba saja berpikir seperti itu. Mungkin tidak hanya berpikir, tapi aku benar-benar merasakannya.
Batinku terkoyak. Aku bagaikan kehilangan arah. Aku bingung, namun di sisi lain aku masih membutuhkan suatu bagian darimu. Yah, kunikmati saja hidupku. yang hambar, tak berasa, dan semakin pudar. Semakin dirasa, aku semakin tak kuasa. Semakin terjepit dan terhimpit. Hingga aku memberanikan diri membuat keputusan terdahsyat yang sebelumnya tidak pernah aku bayangkan.

“Maaf, aku benar-benar harus membuat keputusan. Walaupun aku akan membuatmu terluka, namun aku tidak ingin kita akan semakin terluka. Bukankah dari dulu kamu inginkan kebebasan? Dan tidak bersamaku adalah cara satu-satunya untuk hal itu. Apa kau tak lihat, bahwasanya aku telah menjadi sosok yang menyeramkan dan akan semakin menyeramkan buatmu? Dan salah satu cara merubahku adalah dengan melepasmu. Kita akhiri saja jalinan kasih kita yang sudah tiada kesinambungan ini. Jika tidak ada niat saling merubah, selamanya akan seperti ini. Kamu kehilangan kebebasanmu dan aku semakin menyeramkan dan bahkan berubah menjadi monster paling kejam di matamu. Maafkan aku jikalu ini menyakitimu. Sudilah kau memaafkanku, dan membiarkanku melanjutkan hidupku dengan perubahan yang baru. Dan jalanilah kehidupanmu setelah ini dengan lebih baik,’ life must go on’!”

Tiada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Lelakiku yang dulu, ah rasanya terlalu berlebihan kalau aku masih memanggilnya lelakiku. Yang aku lihat disamar-samar pandangan mataku yang tertutup air mata hanyalah tetesan air mata yang keluar dari mata indahnya itu.
Dan kini aku menemukan sesosok lelaki yang benar-benar membuatku kagum dengan segala tentangnya. Gaya bicaranya, cara ia memperlakukanku. Dan semuanya natural se natural mungkin tanpa ia buat sedikitpun. Aku merasa hidup kembali. Aku merasa memiliki semangat baru. Dia benar-benar berbeda. Seorang executive muda yang dapat menarik perhatianku dan kemudian mencuri hatiku. Sepertinya ini adalah sosok idaman yang aku cari. Dia begitu mengertiku dan memahami bagaimana memperlakukanku.
Ketika aku masih menikmati lamunan yang mendayu itu. Dan ketika aku menyadari bahwa aku sekarang tengah menemukan kebahagian. Sontak aku dikagetkan oleh suara handhoneku. Aku menebak, pasti itu dari pujaanku. Dan ketika aku melihatnya, dilayar tertulis “one message received from BestFriend Luna”.

“Innalillahi wa innailaihi rojiun… telah berpulang ke rahmatullah teman kita tercinta ‘Yuda Setiawan’ pagi ini pk. 07.08 WIB karena penyakit kanker otak yang dideritanya. Mari kita doakan semoga amal dan ibadahnya diterima di sisi Allah SWT serta keluarga diberi ketabahan.Amin”

Hatiku sontak tersayat. Lelakiku yang 3 tahun lalu masih menikmati indahnya dunia bersamaku, apa mungkin sedemikian. Lelakiku yang selalu menurutiku. Lelakiku yang rela mengalah untukku. Lelakiku yang tega aku campakkan 2 bulan lalu. Lelakiku. Aku yang terlalu kejam padamu. Dan aku yang tidak pernah mau tahu. Mata ini sontak meneteskan bulir demi bulir air mata. Semakin dan semakin kabur dirasa. Hingga aku merasa ada sorot cahaya putih yang berpijar dan terus berpijar keseluruh ruangan. Tiba-tiba runagan kantorku berwarna putih semua seiring dengan tubuhku yang terasa hilang keseimbangan.


Kamu yang mencintaiku, kamu yang menyakitiku...
kamu yang aku lukai, dan aku yang menyesalkan itu...
Semua dalam rahasiamu...




                                                                                                                   

Aku dan Diam


Aku dan Diam

Ada pepatah bilang, diam adalah emas. Entah dari mana serangkaian kata penuh makna itu tercipta. Apakah dari hasil perenungan ataupun dari fakta-fakta yang tergelar disepanjang kehidupan ini. Diam. Apakah diam itu hal yang mulia? Atau bahkan diam itu lebih pada ketidakmampuan kita? Siapa yang tahu tentang Diam? Siapa yang berhak menghakimi kata Diam itu? Hanya Maha Segalalah yang berhak atas setiap yang tergambar, tertulis, dan terlukis di dunia yang fana ini.
Diam. Sepertinya aku lebih familier dengannya. Entah sekedar familier dengan kata itu, atau mungkin aku yang benar-benar dekat dan bahkan melebur dengan makna Diam yang sesungguhnya. Karena sejatinya Diam sudah merasuki setiap detail lekuk tubuhku, setiap hembusan nafas ini, dan bisa jadi Diam itulah diriku.
Jika setiap khalayak yang mengenalku pasti heran jika aku berkata Diam itu aku, karena suaraku terlalu riang bak petir yang menyambar-nyambar di siang bolong ketika memproduksi kata demi kata. Kedengarannya bagai dua sisi logam yang berbeda, ya tapi beginilah adanya aku.
Diam. Diam itu ketika aku tidak memiliki kekuatan yang bisa mendorongku mengutarakan setiap detail ide di otakku. Aku terlalu mudah mengimajinasikan hal-hal yang indah, mengagumkan, dan bahkan hal yang tak rasional sekalipun. Tapi sekali lagi, Diam terlalu kuat mengikat lidahku. Sehingga semuanya hanya akan menjadi agan-angan yang tidak pernah tersampaikan.
Diam. Diam adalah ketika temanku memohon. Amat sangat benar karena aku hanya diam saat mereka memintaku akan sesuatu. Di lubuk hati yang terdalam aku berkata “tidak”, “jangan”, “bukan begitu”, “aku tidak setuju”, dan masih banyak kosa kata yang bertentangan dengan anggukanku. Tapi Diamlah yang memaksaku selalu menganggukkan kepala dan mengantarkan tubuh dan otak ini berjalan melawan hati, bekerja pada hal yang tidak semestinya.
Diam. Diam adalah ketika keadaan terlalu kejam padaku. Ia terlalu memandang dari satu sudut pandang yang begitu kejam. Ia terlalu menyudutkanku dengan segala aturan yang tidak begitu aku pahami ketika demokrasi sudah dijalankan di negeri ini. Karena keadaan memaksaku terbentuk menjadi seperti ini. Karena keadaan yang memaksaku untuk Diam atas semua hal yang tidak pernah ingin aku alami. Dengan diam aku merasa aman. Dengan diam aku tidak perlu meledak dan balik menyerang. Karena dengan Diam itulah aku mengikuti keadaan. Kemudian mendapat pembelajaran.
Diam. Diam adalah ketika kamu mengecewakanku. Hati ini terlalu pilu ketika keadaan tidak sesuai harapan, dan kamu tidak sesuai dengan apa yang aku inginkan. Egois, mungkin kedengarannya memang seperti itu. Tapi inilah Aku dan Diam. Karena sesungguhnya aku tidak ingin berbalik mengecewakanmu. Mengecewakan apa yang kamu cintai. Mengecewakan harapan-harapanmu. Mengecewakan setiap rencana yang tertata rapi. Sesungguhnya aku tidak berniat seperti ini. Aku hanya seorang manusia yang sama dengan khalayak lainnya. Kecewa, sakit hati, tidak terima, dan masih banyak lagi hal yang sama dengan mereka. Aku menyayangimu lebih dari diamku. Ketahuilah bukan aku yang berkamuflase atau munafik, karena Diam adalah Caraku. Segalanya terasa berat tapi inilah kenyataan Aku dan Diam.