Sosok yang Dikirim Tuhan Untukku yang Membutuhkanmu
Malam
ini terlalu pajang bagiku. Tidak seperti malam-malam lain yang bergulir teramat
cepat mengalahkan laju cahaya, yang dengan sekejap mengubah petang menjadi
terang. Malam ini masih di sudut ruang kecil. Ruang segala untukku. Tangis,
tawa, gundah, gulana, riang gembira bahkan mungkin galau seperti sebutan
anak-anak gaul sekarang. Kerja keras maupun bersantai. aku lalui semua disini,
termasuk saat kamu merangkul kesedihanku, tangisku, dan marahku. Disini kita
melakukannya. Di sudut kamar penuh nan berisi.
Malam
ini seiring playlist lagu di komputer lipatku setia mengiang di telingaku,
merasuk hingga otakku yang sedang penuh dengan tumpukan deadline yang
menyesakkan. Hingga aku tersentak seketika seiring terdengar lagu “True Love”
OST Drama Korea lawas “All About Eve”
yang sontak merujuk masuk ke dalam sekat-sekat dada ini. Seketika itu aku ingat
tentang kita. Tentang kamu yang entah mengapa dikirim Tuhan untukku. Tentang
kamu yang menjadi sosok yang walaupun jauh dari kata sempurna, namun kamu
bagaikan iklan kopi yang dibilang “komplit” itu. Memang betul kamu komplit buat
hidupku.
Ingatanku
sejalan dengan rindu ini yang semakin menggebu atas jarak yang tercipta
diantara kita kali ini. Ya, ini bukan jarak yang salah namun kita yang
ditunggangi beberapa kepentinganlah yang menjadikan jarak ini tak sekedar
berarti tapi perih dirasa namun harus tetap dimengerti. Semakin dalam seakan aku
bertamasya ke dalam ingatanku dalam 2 tahun belakangan. Semakin dalam dan
semakin dalam. Semakin aku ingat, semakin aku berputar-putar demi mencari
jawaban atas kehadiranmu selama ini.
Kamu
adalah sosok yang dikirimkan Tuhan saat hati ini terkatung-katung. Seperti buah
yang sudah masak, hanya dengan sentilan bertenaga sepersekian joule saja akan
jatuh ke tanah. Dan itu sudah barang pasti membuat buah yang tadinya segar
menjadi sedikit bonyok dan mungkin juga pecah. Namun kamu menangkap buah itu ke
tanganmu saat buah itu benar-benar terjatuh dengan kecepatan gravitasi bumi
yang konstan. Hingga hampir menyentuh permukaan tanah yang keras dan tak jarang
banyak bebatuan. Dengan sentuhan hati tulusmu itulah aku yang bak buah yang kau
sadarkan dan kau giring di jalan yang tak jarang begitu terjal dirasa.
Setiap
waktu dengan segala daya, upaya dan kesabaran yang tak hentinya kau curahkan.
Entah demi apa aku juga tak tahu. Yang aku tahu aku ingat hal itu demi Tuhan
yang mengirimkan kamu untukku. Kamu menggiringku dalam sadarku mengarungi jalan
yang mengajariku bahwa inilah kenyataan hidup. Seaakan saat itu kamu tak hanya
sekedar mengatakan namun kamu ingin menunjukkan
bahwa inilah kenyataan hidup yang sesungguhnya ketika wanita lebih suka
masuk jebakan buaian kelembutan kata-kata pria.
Kamu
adalah satu-satunya pria yang mampu bertahan dengan penuh kesabaranmu
mendampingiku keluar dari buaian-buaian itu. Kamu adalah sosok pria yang dengan
tulusmu mampu menguatkan hatiku. Dan kamu adalah sosok pria yang dengan
keikhlasanmu berada disampingku memberi kekuatan melupakan masalalu yang
terlalu kejam melukaiku. Terlalu berlebihan, mungkin bagi orang-orang yang
melihat. Tapi demikian adanya kenyataan yang senantiasa melekat dalam hatiku.
Iya, kenyataan yang tertulis diotak bisa terdelet dengan mudah tapi aku percaya
yang ada di hati seseorang tak pernah salah untuk hal yang selalu tertinggal.
Kamu,
sesosok pria yang selalu siap menyediakan pundakmu untukku saat tangisku. Saat
aku mengingat tentangnya. Dan saat aku menangis tersedu dipundakmu dan
kenyataan aku masih menggenggam fotonya dihadapanmu saat itu. Kamu memelukku
dengan penuh kehangatan yang masih bisa ku rasakan hingga sekarang. Yang dengan
daya magisnya mengusir segala ketidaktulusan, karena yang aku mungkin tak dapat
melihat namun dapat aku rasakan adalah ketersediaanmu berada disisku.
Ketersediaanmu menerima segala tentangku yang masih terlalu memujanya dengan
ratapan piluku. Kelembutan hatimu yang membuatku tegar menyusuri jalan yang
harus aku selesaikan. Memang harus aku selesaikan untuk mendapat apa yang
disebut kebahagiaan. “Ini memang proses” kata itu yang selalu kamu lontarkan,
yang memberikan suntikan semangat untuk tetap ikhlas menjalani sisa jalan yang
harus aku lalui menuju kebahagiaan.
Denganmu
aku lebih kuat dari apa yang aku bayangkan. Dengamu aku sedikit bisa mengerti
kenyataan ini. Denganmu, denganmu, dan denganmu. Tidak hanya aku, tapi aku dan
kamu mengarungi masa sulit dalam hidupku. Bersamamu yang mampu membuka celah
hati yang lain. Celah yang mampu kamu terobos dengan segala ketersedianmu
berada disisku. Masih sangat kuingat ketika aku putus asa, berhenti dan stag di
sisa jalan yang masih harus kutempuh. Dan dengan tetap menyebut-nyebut namanya
berkali-kali, kamu adalah satu-satunya sosok yang masih bersedia menampung
segala keluh, jenuh, dan lelahku kala menyelesaikan permainan itu.
Saat
kegagalanku, kamu adalah sosok terdepan yang dengan dayamu entah menghampiriku
atau hanya sekedar menenangkan lewat panggilan selulermu itu. Semata hanya
membuatku tenang, aku tahu itulah yang kamu coba lakukan saat itu. Dan aku
takbisa mengelak saat itu kamu adalah satu-satunya sosok yang selalu terlintas
dalam pikiran dan mungkin hatiku. Terlintas untukku selalu menujumu. Saat masa
sulitku seseorang yang dengan kebesaran hati memelukku. Membisikkan kata bahwa
aku harus tenang karena kamu selalu disampingku.
Dan
bahkan kamu rela mendengarkan setiap ceritaku tentangnya, yang bisa saja itu
adalah hal yang tak pernah kau harapkan dariku. Cerita yang begitu pilu dan
menggurat dihatiku. Kamu yang aku tahu, dengan sabarnya kamu eluskan tangan
hangatmu ke pundakku saat aku meneriakkan cacian, makian ataupun penyesalanku
tentangnya. Menenangkanku, membuatku sekejap melupakan ironi semu yang tak aku
sadari Tuhan sebenarnya berkehandak menghapusnya lewat sosokmu.
Dan
bahkan saat aku memutusakan menjalani hidup bersamamu disela-sela kenanganku
tentangnya. Aku mungkin tak menyadari kala itu, kamu sudah jelas pasti terluka
atas semua tentangku. Atas semua ingatanku tentang laki-laki itu. Hingga aku
menyadari kamu terlalu kuat untuk menyerah dengan hal yang serumit sudut
pandangku tentang hal itu. Dan masih saja denga segala kebodohanku mencuri
setiap tangisanku yang kau jaga ini masih demi sesosok pria itu.
Menyembunyikannya disela-sela pundakmu yang takpernah kau tahu aku sering
menitikkan air mataku diatasnya. Air mata yang takseharusnya aku teteskan masih
demi lelaki itu dipundak kokohmu. Setiap kenangan yang mengiringi langkah aku
dan kamu, kenangan itu masih saja tentang pria itu. Yang membuatku hampir gila
merasakannya. Tak hanya dada yang menyesak namun otakpun serasa hilang akal.
Aku
menyadari bahwasanya kamu tahu hal itu. Kamu terlalu pintar menyembunyikan
perasaanmu di balik kekuatanmu yang menguatkan setiap langkahku dan kamu.
Kekuatan yang setia merangkul kesedihanku, kekuatan yang selalu mendekap
kegundahanku, dan kekuatan yang senantiasa menampung keegoisanku atasmu. Kekuatan
itu semakin lama menjelma menjadi kesediaanmu menyambut segala kurangnya diriku
atas segala. Sungguh indah bagi yang bisa merasakan tapi bagiku terlalu bodoh
karena aku takseketika menyadari segala tentang hal itu.
Kamu,
sosok yang selalu merangkul kemarahanku. Meredam segala bentakanku dengan
diammu. Mencairkan hati yang sedang mungkar dengan sedikit candamu. Menahan
segala cacianku dengan senyum, yang aku mengerti itu adalah tanda ketersedianmu
menjadi sosokmu yang tanpa kusadari sangat berarti dihidupku. Siapa yang pernah
bisa mengingkari garis yang telah dibuat Tuhan. Dan apakah salah kalau aku
terlambat menyadarinya? Bahkan, bukan hanya sosok Tuhan saja namun sosokmu pun paham
sekali akan hal itu? Karena kamu mengerti Tuhan memanggilmu untukku.
Keterlambatan
bagiku bukan kesalahan. Karena bagi hidupku dan hidupmu saat ini keterlambatan
adalah tanda bahwa kini aku telah sadar. Dan bahwasanya ini adalah tanda bahwa
aku telah menemukan ujung jalan pilu itu. Bahwa ini tanda aku mencapai titik
keberhasilan yang tidak hanya untukku, tapi untukmu dan untukku yang telah di
desain Tuhan dengan cara yang begini. Sedemikianrupa rumitnya. Demikian pula di
depan sana cahaya sudah siap menanti, bukan hanya menantiku tapi menanti aku
dan kamu. menanti kita berdua.
Kamu,
sesosok pria yang membawaku keluar dan pergi meninggalkan bayanganku
tentangnya. Dengan segala kesakitan yang aku dan kamu alami berdua, aku rasa
kita berhasil. Karena Tuhan memang sepertinya berkehendak begitu. Kamu menjadi
sosok yang membukakan dunia baru, dunia yang aku kira dulunya terlalu sempit
namun pada kenyataannya aku menyadari bahwa dunia ini terlalu luas untuk tetap
meratapi hal yang tak pernah melihat bahkan menengok kita. Dunia yang terlalu
indah dilewatkan sedetikpun atas segala keajaiban yang terjadi di dalamnya.
Dunia yang begitu fantastis, dunia yang aku rasa sekarang aku benar-benar siap untuk
aku itari bersamamu. Karena kamu adalah satu-satunya alasan yang membuatku
kembali ke pelukanmu kala kemarahan menjelma menyerupai diriku. Karena hanya
padamu Tuhan senantisa mengirimku kembali saat hilang arahku. Dan hanya kamu
satu-satunya yang terbersit di setiap membran hatiku setiap saat dan waktu aku
berusaha menjauh darimu. Kamu yang dengan lihai membuat kejutan demi kejutan
dalam hidupku. kamu yang dengan ajaibnya membuatku bertahan dalam kerasnya
kehidupan ini.
Kamu
sosok yang tak pernah lelah mengantarku kesana kemari mencari hal yang kadang
ujungnya tidak begitu jelas untukku dan untukkmu. Kamu sosok yang tidak pernah
mengeluh dalam kesahku. Kamu adalah driver terhebat yang pernah membawaku
kesetiap tempat yang menjadi saksi bahwa sejatinya Tuhan menciptakan aku hanya
untukmu. Kamu, adalah sosok yang tak pernah kehabisan akal dan cara membuatku
menjadi wanita paling beruntung di jagad raya. Dengan kesabaranmu kamu tak
letihnya menghadapiku. Kekanak-anakanku yang setiap saat menyeruak tanpa
permisi, makian, teriakan, dan segala kegoisan hanya dengan satu lengkungan
senyummu kamu mengisyaratkan tahan akan segala hal itu. Kamu yangg sanggup
meredam setiap detik kecemburuanku. Kamu sosok yang tiada henti, selalu dan
selalu berusaha mengerti setiap liku sudut pandang anehku dengan segenap
pengertianmu.
Kamu…
Kamu…
Kamu…
Kamu..
Dan
kamu…
Hingga
malam ini aku menyadari, pada akhirnya aku terlalu sulit untuk mencoba
menggambarkan segalanya tentang dirimu. Karena kamu yang aku tahu adalah sosok
yang sedemikian Tuhan maksudkan untukku yang membutuhkanmu. Kamu adalah sosok
yag pada akhirnya menjadi satu-satunya tempatku kembali ketika aku coba berlari
melawan laju hatiku. Kamu, satu-satunya sosok yang membuatku kesulitan
menggambarkanmu.eFeL